syafruudin Pernyata bersama Hatifah di sebuah acara.
Ada sesuatu yang patut dicatat
dari perubahan susunan pimpinan alat kelengkapan DPR RI, 19 Agustus 2026.
Bukan hanya karena Hetifah
Sjaifudian tidak lagi menjadi Ketua Komisi X DPR RI.
Lebih dari itu, Kalimantan
Timur kini kembali tidak memiliki wakil rakyat yang duduk sebagai ketua komisi
di DPR RI.
Agung Widyantoro dari Fraksi
Partai Golkar ditetapkan sebagai Ketua Komisi X menggantikan Hetifah. Hetifah
sendiri mendapat penugasan baru sebagai anggota Komisi VIII.
Bagi sebagian orang, mungkin
ini hanya pergantian biasa. Rotasi. Penyegaran. Penataan internal fraksi.
Akan tetapi bagi Kalimantan
Timur, persoalannya menjadi sedikit berbeda.
Sebab, sejauh penelusuran
saya, belum pernah ada wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Timur yang
menjadi Ketua Komisi DPR RI.
Awang Faroek Ishak pernah
menjadi Wakil Ketua Komisi II. Irwan Fecho pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua
Komisi V. Pada masa Orde Baru, Djafar Siddik pernah menduduki posisi penting
dalam parlemen melalui Badan Kerja Sama Antar-Parlemen. Tetapi itu bukan
jabatan sebagai pimpinan komisi.
Karena itu, ketika Hetifah
Sjaifudian dipercaya menjadi Ketua Komisi X pada periode 2024–2029,
sesungguhnya ada sebuah sejarah kecil yang sedang ditulis.
Untuk pertama kalinya, nama
Kalimantan Timur hadir di kursi Ketua Komisi DPR RI.
Bukan sekadar nama Hetifah.
Bukan semata-mata nama Partai
Golkar.
Tetapi nama sebuah daerah
pemilihan.
Kalimantan Timur.
Kini sejarah itu terhenti.
Namun, Hetifah tidak berhenti menjadi wakil rakyat. Ia hanya berpindah medan.
Saya mengenal Hetifah dari
ruang yang berbeda. Karena latar pendidikan dan bidang yang selama ini menjadi
perhatian, saya kerap berdiskusi dengan Hetifah tentang pendidikan, pariwisata,
literasi, seni dan kebudayaan.
Dari percakapan-percakapan itu
saya melihat satu hal yang menarik. Hetifah bukan tipe wakil rakyat yang hanya
muncul ketika ada agenda besar.
Kadang saya sendiri heran.
Dalam satu tahun, bisa empat
atau lima kali ia datang ke Kalimantan Timur.
Datang ke Samarinda,
Balikpapan, kabupaten dan kota lain, kemudian bergerak lagi ke berbagai tempat
untuk bertemu masyarakat dan menyerap persoalan.
Tentu, orang bisa saja
mengatakan bahwa datang ke daerah merupakan bagian dari tugas seorang anggota
DPR.
Benar. Tetapi bagi saya,
persoalannya bukan semata-mata berapa kali seseorang datang. Yang lebih penting
adalah apa yang ia dengar ketika datang, dan apa yang ia bawa pulang setelah
mendengar.
Dalam beberapa kesempatan,
pembicaraan kami pun tidak berhenti pada persoalan pendidikan tetapi juga
pariwisata, literasi, seni dan kebudayaan dan penelitian.
Ada persoalan bagaimana
kebijakan pusat bisa lebih sensitif terhadap kebutuhan daerah. Belakangan,
ruang pergaulannya semakin luas dengan para seniman, budayawan dan peneliti.
Karena itu, saya melihat
Hetifah bukan sekadar sebagai politisi yang duduk di Senayan. Ia telah menjadi
salah satu simpul pertemuan antara berbagai kelompok masyarakat Kaltim dengan
pemerintah pusat.
Suara dari pedalaman.
Kedekatan itu juga terlihat dari jejak kunjungannya ke wilayah yang jauh dari
pusat pemerintahan. Di Mahakam Ulu, misalnya, persoalan masyarakat pedalaman
dan perbatasan pernah dibawanya ke tingkat pusat. Mulai dari kebutuhan
komunikasi dan internet desa, kendaraan sungai, hingga sarana mobilitas
pendamping desa.
Di Kutai Timur dan daerah
lainnya, persoalan pendidikan yang ia dengar dalam kunjungan ke daerah kemudian
dikaitkan dengan kebutuhan fasilitas sekolah dan bantuan bagi siswa.
Maka, ketika orang mengatakan
Hetifah cukup dekat dengan masyarakat Kaltim, saya kira ada jejak yang bisa
ditunjukkan. Ia tidak hanya mendengar suara dari kota. Ia juga pernah
mendatangi desa. Bahkan wilayah perbatasan dan pedalaman.
Jakarta boleh jauh. Senayan
boleh jauh. Tetapi suara dari pedalaman tidak boleh ikut menjadi jauh. Medannya
justru bisa lebih luas.
Karena itu pula saya tidak
ingin melihat perpindahan Hetifah semata-mata sebagai kehilangan. Memang, Kaltim
kehilangan kursi Ketua Komisi DPR RI.
Dan menurut saya, ini patut
disayangkan.
Sebab posisi tersebut bukan
hanya memberikan kehormatan kepada orang yang mendudukinya. Posisi itu juga
memberikan ruang lebih besar bagi daerah pemilihan untuk menyampaikan
kepentingannya.
Akan tetapi, pada saat yang
sama, saya juga tidak ingin mengatakan bahwa perpindahan Hetifah berarti
mengecilnya pengabdian. Bisa jadi justru sebaliknya. Medannya diperluas.
Selama ini ia banyak berbicara
tentang pendidikan, pariwisata, olahraga, literasi, kebudayaan dan kepemudaan.
Kini ia mempunyai kesempatan
menyelami persoalan yang lain. Kesejahteraan, keagamaan, haji, pemberdayaan,
perlindungan sosial dan mereka yang sering berada di pinggir perhatian.
Kaltim yang kaya, tetapi masih
memiliki pekerjaan rumah. Kita sering mengatakan Kalimantan Timur adalah daerah
kaya. Minyak ada. Gas ada. Batu bara ada. Kelapa sawit berkembang.
Hutan pernah menjadi sumber
kekayaan yang luar biasa.
Kini Ibu Kota Nusantara pun
berada di tanah Kaltim. Tetapi kekayaan sumber daya alam tidak otomatis membuat
semua persoalan masyarakat selesai.
Di Samarinda, misalnya,
persoalan pendidikan keagamaan masih membutuhkan perhatian. Madrasah tsanawiyah
negeri yang terbatas daya tampungnya setiap tahun harus berhadapan dengan
jumlah calon peserta didik yang jauh lebih banyak.
Ada anak-anak yang ingin
sekolah.
Ada orang tua yang berharap.
Tetapi kursi yang tersedia
terbatas.
Di situlah wakil rakyat
diperlukan.
Bukan hanya untuk menghadiri
rapat.
Tetapi untuk melihat persoalan
yang kadang tidak terlihat dari Jakarta.
Begitu pula dalam bidang
kesejahteraan sosial.
Di tengah daerah yang sering
disebut kaya sumber daya alam, masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian
negara. Masih ada penyandang masalah sosial. Masih ada kelompok masyarakat yang
membutuhkan perlindungan. Masih ada keluarga yang membutuhkan pemberdayaan agar
tidak selamanya bergantung pada bantuan.
Kekayaan daerah seharusnya
tidak hanya terlihat dari besarnya angka produksi batu bara atau luas
perkebunan kelapa sawit.
Kekayaan yang sesungguhnya
adalah ketika masyarakatnya ikut merasakan hasil pembangunan.
Embarkasi yang jangan hanya
ramai ketika musim haji. Ada pula persoalan lain yang menarik untuk dilihat.
Kaltim memiliki Embarkasi Haji
Balikpapan. Setiap musim haji, tempat itu menjadi sangat sibuk. Tetapi setelah
musim haji selesai?
Bukankah kita perlu memikirkan
bagaimana fasilitas tersebut dapat memberi manfaat yang lebih luas?
Jangan sampai sebuah fasilitas
publik hanya hidup ketika musimnya tiba.
Bukankah bisa dipikirkan
pemanfaatan yang lebih produktif, sepanjang tetap sesuai aturan dan fungsi
utamanya?
Pertanyaan semacam ini mungkin
justru bisa menjadi bagian dari medan baru Hetifah di Komisi VIII. Kursinya berubah,
bukan pengabdiannya
Maka, ada dua hal yang menurut
saya perlu kita pisahkan.
Pertama, kita boleh
menyayangkan hilangnya kursi Ketua Komisi dari keterwakilan Kaltim.
Kedua, kita tetap berharap
Hetifah mampu menjadikan Komisi VIII sebagai ruang baru untuk memperjuangkan
kepentingan masyarakat Kaltim.
Sebab pada akhirnya, seorang
wakil rakyat tidak dinilai hanya dari kursi yang didudukinya. Ia dinilai dari
suara siapa yang dibawanya. Dari persoalan apa yang diperjuangkannya dan dari
seberapa jauh keputusan yang lahir di Senayan benar-benar sampai ke masyarakat.
Hetifah mungkin tidak lagi
memegang palu Ketua Komisi X tetapi ia masih memegang sesuatu yang lebih
penting:
amanah dari rakyat Kalimantan
Timur dan amanah itu tidak ikut berpindah komisi. Ia tetap melekat.
Di mana pun kursinya berada.
Di Komisi X ataupun Komisi
VIII.
Sebab bagi seorang wakil
rakyat, kursi hanyalah tempat duduk.
Yang membuatnya berarti adalah
untuk siapa ia duduk.(Syafruddin Pernyata)
Berita Lainnya
Sehari Terkumpul di BPU,PPK Sangatta Utara Langsung Gelar Rapat Pleno
SANGATTA (10/12-2020)Seharisetelah pencoblosan, PPK Sangatta Utara, Kamis (10/12) di BPU SangattaUta ....
- editor@ivan
- 10 Des 2020
- 2094
Catatan Ke Turki 13 : Menikmati Teh Panas Samping KRL
KENYAMANAN bagi masyarakatmemang diciptakan pemerintah Turki, sehingga menelusuri sudut-sudut Istanb ....
- editor@ivan
- 09 Mar 2022
- 777
Bupati Ardiansyah Apresiasi Kinerja Bawaslu
SANGATTA (5/4-2021)nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp; Kiner ....
- editor@ivan
- 05 Apr 2021
- 519
Dibantu KPC, Pemkab Kutim Perbaiki Jalan Amblas
SANGATTA (5/9-2021)Mendapat kabar jalan Sangatta Rantau Pulung (Sanpul) amblas, Bupati Kutim Ardian ....
Peringatan Peristiwa Merah Putih Ditengah Pandemic Corona
SANGA SANGA (27/1-2021)Peringatan Peristiwa Merah Putih ke 47 digelar sederhana, namun tidak mengura ....
- editor@ivan
- 27 Jan 2021
- 594


