Ketika Wartawan Menemui Waktu, "Pinjam dulu anting-antingmu, nanti ayah ganti." OLEH SYAFRUDDIN PERNYATA
WARTAWAN ERA TAHUN 1970 DAN 1980AN SAAT BERTEMU KEMBALI DI SAMARINDA DIANTARANYA SYAFRUDDIN PERNYATA WARTAWAN SAMPE SAMARINDA DAN HARIAN AB JAKARTA
Kalimat itu meluncur tenang dari mulut Dr. Mirna Syafitri. Namun begitu sampai ke telinga hadirin, ruangan mendadak hening.
Sabtu, 13 Juni 2026, dalam Pertemuan Wartawan Legend Bedapatan IV di Samarinda, Mirna mengisahkan sebuah cerita yang mungkin tak pernah tercatat dalam sejarah pers Kalimantan Timur.
Suatu ketika, ayahnya, almarhum HM Fuad Arieph, meminjam anting-anting miliknya. Bukan untuk disimpan. Bukan pula untuk diwariskan. Anting-anting itu dijual untuk membiayai penerbitan Harian Suara Kaltim yang sedang menghadapi kesulitan.
"Yang tidak banyak diketahui orang ialah, ayah pernah meminjam anting-anting saya. Dijual untuk ongkos penerbitan surat kabar," kenangnya.
Tak ada yang menyangka. Wartawan senior terdiam. Wartawan muda saling berpandangan. Para undangan tampak tersentak. Di balik terbitnya sebuah surat kabar, ternyata tersimpan pengorbanan yang demikian sunyi.
Barangkali bagi sebagian orang itu hanya sebuah anting-anting. Namun bagi dunia pers, kisah itu adalah simbol pengabdian. Tentang sebuah generasi yang mempertahankan media bukan semata-mata sebagai usaha, melainkan sebagai panggilan hidup. Generasi yang rela mengorbankan apa saja agar koran tetap terbit dan masyarakat tetap memperoleh informasi.
Kisah itulah yang paling membekas dalam Pertemuan Wartawan Legend Bedapatan IV. Sebuah pertemuan yang sesungguhnya bukan sekadar reuni, melainkan pertemuan dengan waktu.
Di sebuah ruangan hotel Clario kawasan Gelanggang (lah Raga Stadion Sempaja Samarinda, puluhan wartawan senior berkumpul. Ada yang datang dengan langkah masih tegap, ada yang berjalan perlahan dibantu usia. Rambut yang dulu hitam kini memutih. Sebagian wajah mulai dipenuhi garis-garis waktu. Namun ketika percakapan dimulai, mereka kembali menjadi wartawan: penuh cerita, penuh ingatan, dan penuh tawa.
Pertemuan Wartawan Legend Bedapatan IV sesungguhnya bukan sekadar temu kangen. Ia adalah pertemuan dengan masa lalu. Di sana, berita-berita lama seperti hidup kembali. Nama-nama tokoh yang pernah memenuhi halaman koran disebut satu per satu. Peristiwa-peristiwa yang pernah mengguncang Kalimantan Timur kembali dikenang. Seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kepada para saksi sejarah itu bercakap-cakap dengan kenangannya.
Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh penting Kalimantan Timur. Tampak hadir Wakil Wali Kota Samarinda, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur, mantan Rektor Universitas Mulawarman Prof. Masjaya, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Namun di antara para tamu yang hadir, ada satu sosok yang menarik perhatian banyak peserta. Dialah Rita Widyasari, mantan Bupati Kutai Kartanegara. Kehadirannya membangkitkan nostalgia bagi banyak wartawan senior. Maklum, dalam perjalanan karier jurnalistik mereka, nama Rita pernah menjadi bagian dari begitu banyak berita, wawancara, laporan, dan dinamika politik yang mewarnai Kalimantan Timur selama bertahun-tahun.
Yang agak berbeda dibandingkan pertemuan serupa empat tahun lalu, Bedapatan kali ini tidak hanya menjadi ruang bernostalgia. Panitia menghadirkan sebuah talkshow yang mempertemukan wartawan dengan dua narasumber penting, yakni Wali Kota Samarinda, Dr. Andi Harun, dan Deputi Lingkungan Otorita IKN, Dr. Mirna Syafitri.
Sebagai pemandu acara, saya meminta Andi Harun melakukan sesuatu yang jarang terjadi: memotret wartawan dari sudut pandang seorang pejabat publik. Selama ini wartawan begitu sering menulis tentang penguasa, mengkritik kebijakan, mengamati perilaku para pemimpin.
Namun sangat jarang wartawan menengok dirinya sendiri melalui mata orang lain. Karena itu, pandangan seorang kepala daerah yang selama bertahun-tahun berinteraksi dengan insan pers patut didengar, bukan untuk dipuji atau dibantah, melainkan untuk dipelajari.
Pada bagian awal, Andi Harun mengapresiasi kehadiran pers sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Namun ia mengingatkan bahwa tugas pers tidak berhenti pada menyampaikan informasi. Pers, menurutnya, memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni ikut mencerdaskan bangsa.
Karena itu, selain informatif, pers harus tetap edukatif, korektif, dan objektif.
Jika Andi Harun berbicara tentang fungsi pers, maka Mirna Syafitri membawa hadirin memasuki ruang yang lebih personal. Ia tidak berbicara sebagai pejabat negara, melainkan sebagai anak seorang wartawan dan pemimpin surat kabar.
Mirna adalah putri almarhum HM Fuad Arieph, pemimpin umum Harian Suara Kaltim dan Ketua PWI Kalimantan Timur selama dua periode. Darah pers bahkan mengalir lebih jauh dalam silsilah keluarganya. Fuad Arieph adalah putra Badrun Arif, tokoh pers yang telah bergelut di dunia jurnalistik sejak sebelum kemerdekaan.
Berita Lainnya
Ardiansyah : Masyarakat Diedukasi Menghadapi Bencana
SANGATTA (2/4-2022)Bencana alam seperti banjir yang terjadi di Sangatta,harus membuat manusia lebih ....
- editor@ivan
- 02 Apr 2022
- 436
Di Wilayah OperasionalNYA KPC berkurban 67 ekor sapi
menyambut hari raya idul adha1446 hijriah, pt kaltim prima coal (kpc) menyalurkan 67 ekor sapi kurba ....
- editor@ivan
- 05 Jun 2025
- 124
Mantan Kadis PLTR Kutim Kembali Diadili di PN Tipikor
SAMARINDA (18/11)Mantan Kepala Dinas PLTR Kutim, AA hari ini kembali duduk di kursi persakitan Penga ....
- editor@ivan
- 18 Nov 2020
- 649
insya ALLAH, besok 148 jamaah haji kukar datang
BALIKPAPAN (4/7)Insya Allah, jumat (4/7) pukul 03.10 wita besok giliran jamaah haji asalkukar tiba d ....
- editor@ivan
- 03 Jul 2025
- 97
tips melakasanakan ibadah haji (4) FUNGSI MASING-MASING TAS HAJI
nbsp;jamaah hasji indonesia yang sudahterdaftar berangkat akan mandapatkan living cos dan tas dari k ....
- editor@ivan
- 02 Mei 2025
- 169



