pemuda

KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 2)

KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 2) KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 2)

 

“Saya dibolehkan bergabung, tetapi harus mematuhi aturan kelompok, termasuk menyesuaikan penampilan.”

 

“Seperti pengamen yang biasa mangkal di persimpangan jalan itu, ya? Rambutnya pirang?” tanya Bustan.

 

Anto mengangguk.

 

“Saya terbiasa hidup bersama teman-teman. Kalau malam, kami tidur di kolong jembatan. Rambut saya juga berubah bergaya mohawk.”

 

Bustan tersenyum. Ternyata pemuda yang semula tampak pendiam itu bisa bercerita dengan lancar.

 

“Lalu, apa yang membuatmu berhenti mengamen?”

 

“Uangnya sedikit, Pak. Saya tidak puas dan ingin naik kelas. Akhirnya, saya menjadi pemalak.”

 

“Masya Allah!”

 

“Hanya dua tahun, Pak. Saya tidak tahan. Uang hasil memalak harus disetorkan kepada bos. Saya hanya mendapat sedikit uang untuk membeli rokok.”

 

Anto menunduk sebelum melanjutkan ceritanya.

 

“Setiap hari saya dimaki karena setoran dianggap kurang. Kalau pulang tanpa membawa uang, perut saya dipukul atau saya ditendang. Pernah saya direndam dalam drum semalaman hanya karena sepatu bot milik bos hilang. Saya dianggap bertanggung jawab karena saat kejadian berada di rumahnya. Akhirnya, saya melarikan diri dan pindah ke kota ini.”

 

“Itukah sebabnya ada kata Lara di belakang namamu?” tanya Bustan.

 

Anto mengangguk.

 

Bustan terdiam. Betapa sedikit pengetahuannya tentang kehidupan anak-anak miskin yang akhirnya terjerumus ke dalam dunia kekerasan.

 

“Saya ingin menebus kesalahan, Pak. Saya ingin hidup normal. Karena itu, saya datang meminta pekerjaan. Yang penting bisa makan dan punya tempat tidur, meskipun hanya di gudang.”

 

Bustan mulai percaya bahwa Anto sungguh-sungguh ingin memperbaiki hidupnya. Baginya, lebih baik memberikan kesempatan kepada mantan pemalak yang berkomitmen berubah daripada mudah percaya kepada orang yang tampak baik, tetapi menyimpan niat buruk.

 

Selama ini, Bustan memang mudah percaya kepada orang sehingga berkali-kali tertipu. Ada orang yang di hadapannya tampak alim, tulus, dan rajin, tetapi di belakang justru pemalas dan penipu.

 

Akhirnya, Bustan menerima Anto bekerja di tokonya. Keputusan itu bukan semata-mata karena kasihan. Bustan sendiri pernah mengalami masa sulit tanpa kehadiran ayah, meskipun tidak sampai terjerumus ke dalam kenakalan seperti Anto.

 

Ia berharap pemuda itu mendapat kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.(bersambung/Spernyata)

Share to:

Ivan

Editor