KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 1)
“Saya perlu pekerjaan, Pak.
Apa saja. Yang penting bisa makan, punya tempat tidur, dan mendapat sedikit
upah untuk membantu ibu saya yang sedang sakit.”
Bustan menghela napas. Toko
pakaian miliknya sedang sulit bertahan. Jika supermarket saja banyak yang
tutup, bagaimana toko kecil bermodal terbatas seperti miliknya bisa berkembang?
Karena itu, permohonan pemuda
yang memperkenalkan diri sebagai Anto Lara tersebut semestinya ditolak.
“Orang seusia kamu seharusnya
kuliah sampai sarjana. Setelah itu, baru mencari kerja.”
“Saya tidak sanggup, Pak.
Tidak ada biaya.”
“Memangnya kamu tidak punya
ayah atau saudara yang bisa membantu?” tanya Bustan.
“Ayah saya meninggalkan ibu
ketika saya berusia tujuh tahun. Katanya, beliau bekerja sebagai TKI di Sabah,
Malaysia Timur. Sekarang sudah 15 tahun, tetapi belum pernah pulang. Ada yang
bilang ayah saya sudah meninggal.”
“Karena sakit?”
“Jatuh dari lantai sembilan
saat bekerja di proyek pembangunan hotel, kata orang-orang.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un.”
“Itu kata orang, Pak. Saya
tidak percaya.”
“Mengapa?”
“Tidak ada buktinya. Orang
yang menyampaikan kabar itu juga bukan saksi mata atau teman kerja ayah saya.
Mereka hanya mendengar kabar tentang kecelakaan kerja. Katanya, korbannya orang
Kalimantan. Orang Kalimantan yang bekerja di Sabah kan banyak.”
Sejak ayahnya pergi, Anto dan
ibunya tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk tua di tengah kebun milik orang
kota. Tujuh tahun kemudian, neneknya meninggal dunia. Tinggallah Anto bersama
ibunya.
Syukurlah, pemilik kebun masih
mengizinkan mereka menempati gubuk tersebut dengan kewajiban menjaga kebun.
Setiap bulan, mereka mendapat bantuan beras dan ikan asin. Jika cabai atau
terong dipanen, hasilnya dibagi dua dengan pemilik kebun.
“Dari pondok itu, saya harus
berjalan kaki empat kilometer untuk sampai ke sekolah. Karena itu, saya bangun
setiap subuh agar tidak terlambat.”
Anto kemudian bercerita bahwa
ia pernah meminta izin kepada ibunya untuk tinggal di kota kecamatan karena SMP
hanya ada di sana. Awalnya, ibunya melarang karena tidak mampu membiayai
pendidikan anaknya.
“Saya meyakinkan Ibu bahwa
saya bisa mencari uang sendiri. Soal tempat tinggal, saya pikir bisa menumpang
di emperan masjid. Alhamdulillah, saya beruntung karena ditampung di rumah
seorang marbut yang tidak punya sanak saudara di kota ini.”
Anto ingin melanjutkan
pendidikan ke SMA, bahkan kuliah. Namun, keinginannya terbentur biaya.
“Saya gagal masuk SMA karena
tidak punya uang. Setelah beberapa waktu tinggal di rumah marbut, saya diusir.
Saya pernah mencuri uang di kotak sumbangan jamaah karena terdesak kebutuhan
biaya sekolah. Saya khilaf, Pak.”
Peristiwa itu membuat hidup
Anto semakin tidak menentu. Ia berhenti sekolah, tidak memiliki tempat tinggal,
dan tidak punya pekerjaan. Demi mengisi perut, ia bergabung dengan anak-anak
punk dan menjadi pengamen.
Penampilannya berubah drastis.
Rambutnya dipotong bergaya mohawk, mengenakan jaket kulit, sepatu bot, celana
jins ketat, serta aksesori berduri.(bersambung/s.Pernyata)
Berita Lainnya
Gubernur Kupas Tuntas UU Pemda
BALIKPAPAN (1/11-2021)Gubernur Kaltim nbsp;Isran Noor mengupas habis tentang UU Pemdayang diantarany ....
- editor@ivan
- 01 Nov 2021
- 851
KPU dan Bawaslu Kaltim Beri Penghargaan Tim Sentra Gakumdu Kutim
SANGATTA (7/1-2021)Suksesnya pelaksanaan Pilkada Kutim Tahun 2020 menjadi perhatinan KPU dan Bawaslu ....
- editor@ivan
- 07 Jan 2021
- 823
Pasangan ASKB Sampaikan Informasi Publik Langsung Kepada Masyarakat
SANGATTA (4/3-2022)nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp; Agarmasyar ....
- editor@ivan
- 02 Mar 2022
- 510
Usai Terkam Warga, .Monster Sangatta, ditangkap tim LKK Kutim
SANGATTA.Sorang pria bernama Ajijumadak (60) Sabbtu (19/9) lalu menjadi korban keganasan monster San ....
Karo Kesra Kaltim Ikuti Ratek Seleksi Petugas Haji
SAMARINDA (24/4-2022) Kebarangkatancalon jamaah haji tahun 2022 asal Kaltim, bakal terwujud, hanya s ....
- editor@ivan
- 24 Apr 2022
- 656

