Seni dan Budaya

KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 1)

KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 1) KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian 1)

 Bustan Savana memandangi pemuda berusia 22 tahun yang berdiri di hadapannya. Suaranya lirih, sikapnya tidak percaya diri, dan ia enggan bertatapan langsung. Kaus oblong dan jinsnya lusuh, robek di bagian lutut. Wajahnya pucat dan memelas. Namun, Bustan tidak serta-merta menunjukkan empatinya.

 

“Saya perlu pekerjaan, Pak. Apa saja. Yang penting bisa makan, punya tempat tidur, dan mendapat sedikit upah untuk membantu ibu saya yang sedang sakit.”

 

Bustan menghela napas. Toko pakaian miliknya sedang sulit bertahan. Jika supermarket saja banyak yang tutup, bagaimana toko kecil bermodal terbatas seperti miliknya bisa berkembang?

 

Karena itu, permohonan pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Anto Lara tersebut semestinya ditolak.

 

“Orang seusia kamu seharusnya kuliah sampai sarjana. Setelah itu, baru mencari kerja.”

 

“Saya tidak sanggup, Pak. Tidak ada biaya.”

 

“Memangnya kamu tidak punya ayah atau saudara yang bisa membantu?” tanya Bustan.

 

“Ayah saya meninggalkan ibu ketika saya berusia tujuh tahun. Katanya, beliau bekerja sebagai TKI di Sabah, Malaysia Timur. Sekarang sudah 15 tahun, tetapi belum pernah pulang. Ada yang bilang ayah saya sudah meninggal.”

 

“Karena sakit?”

 

“Jatuh dari lantai sembilan saat bekerja di proyek pembangunan hotel, kata orang-orang.”

 

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.”

 

“Itu kata orang, Pak. Saya tidak percaya.”

 

“Mengapa?”

 

“Tidak ada buktinya. Orang yang menyampaikan kabar itu juga bukan saksi mata atau teman kerja ayah saya. Mereka hanya mendengar kabar tentang kecelakaan kerja. Katanya, korbannya orang Kalimantan. Orang Kalimantan yang bekerja di Sabah kan banyak.”

 

Sejak ayahnya pergi, Anto dan ibunya tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk tua di tengah kebun milik orang kota. Tujuh tahun kemudian, neneknya meninggal dunia. Tinggallah Anto bersama ibunya.

 

Syukurlah, pemilik kebun masih mengizinkan mereka menempati gubuk tersebut dengan kewajiban menjaga kebun. Setiap bulan, mereka mendapat bantuan beras dan ikan asin. Jika cabai atau terong dipanen, hasilnya dibagi dua dengan pemilik kebun.

 

“Dari pondok itu, saya harus berjalan kaki empat kilometer untuk sampai ke sekolah. Karena itu, saya bangun setiap subuh agar tidak terlambat.”

 

Anto kemudian bercerita bahwa ia pernah meminta izin kepada ibunya untuk tinggal di kota kecamatan karena SMP hanya ada di sana. Awalnya, ibunya melarang karena tidak mampu membiayai pendidikan anaknya.

 

“Saya meyakinkan Ibu bahwa saya bisa mencari uang sendiri. Soal tempat tinggal, saya pikir bisa menumpang di emperan masjid. Alhamdulillah, saya beruntung karena ditampung di rumah seorang marbut yang tidak punya sanak saudara di kota ini.”

 

Anto ingin melanjutkan pendidikan ke SMA, bahkan kuliah. Namun, keinginannya terbentur biaya.

 

“Saya gagal masuk SMA karena tidak punya uang. Setelah beberapa waktu tinggal di rumah marbut, saya diusir. Saya pernah mencuri uang di kotak sumbangan jamaah karena terdesak kebutuhan biaya sekolah. Saya khilaf, Pak.”

 

Peristiwa itu membuat hidup Anto semakin tidak menentu. Ia berhenti sekolah, tidak memiliki tempat tinggal, dan tidak punya pekerjaan. Demi mengisi perut, ia bergabung dengan anak-anak punk dan menjadi pengamen.

 

Penampilannya berubah drastis. Rambutnya dipotong bergaya mohawk, mengenakan jaket kulit, sepatu bot, celana jins ketat, serta aksesori berduri.(bersambung/s.Pernyata)

Share to:

Ivan

Editor