Jangan Biarkan Aset Terlantar, Jadikan Tenggarong Pusat Wisata, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Kukar
perkiraan wajah Kota Tenggarong beberapa tahun mendatang
Oleh: Syafruddin Pernyata
Ada sebidang tanah di kawasan
strategis Tenggarong, tidak jauh dari Jembatan Kutai Kartanegara dan
berdampingan dengan kompleks perkantoran Bupati. Dahulu, lahan milik Pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara itu direncanakan menjadi pusat perbelanjaan atau
mal. Namun, rencana tersebut belum terwujud sebagaimana diharapkan.
Kini, mungkin sudah waktunya
pemerintah daerah melihat kembali lahan itu dengan perspektif yang lebih luas.
Bukan sekadar bertanya bangunan apa yang bisa didirikan di atasnya, melainkan
kegiatan ekonomi apa yang dapat tumbuh dari sana, berapa banyak masyarakat yang
memperoleh manfaat, dan bagaimana aset tersebut dapat memperkuat masa depan
Kutai Kartanegara.
Salah satu gagasan yang patut
dikaji adalah pembangunan hotel bintang dua berkapasitas 120 kamar, dilengkapi
ballroom berdaya tampung minimal 500 orang.
Namun, ada satu hal yang perlu
ditegaskan sejak awal. Hotel itu jangan hanya dirancang sebagai tempat orang
menginap. Ia harus menjadi simpul yang menghubungkan pariwisata, sejarah,
kebudayaan, ekonomi kreatif, kuliner, dan kegiatan bisnis yang telah tumbuh
maupun yang berpotensi dikembangkan di Tenggarong.
Dengan kata lain, yang hendak
dibangun bukan sekadar hotel, melainkan sebuah ekosistem ekonomi yang bertumpu
pada kekuatan daerahnya sendiri.
Tenggarong dan sejarah
panjang pariwisata
Tenggarong bukan kota yang
baru mengenal pariwisata. Sejak akhir 1970-an, ibu kota Kabupaten Kutai
Kartanegara ini telah dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Kalimantan
Timur, terutama wisata sejarah dan budaya.
Jejak Kesultanan Kutai
Kartanegara, Museum Mulawarman, Kedaton, tradisi Erau, dan berbagai peninggalan
sejarah menjadi bagian dari daya tariknya. Di kota ini, sejarah bukan hanya
cerita masa lalu. Ia hadir dalam bangunan, benda budaya, tradisi, kesenian, dan
kehidupan masyarakat.
Daya tarik Tenggarong juga
tidak berhenti pada sejarah. Ada Pulau Kumala dengan ikon Lembuswana, kawasan
Tepian Mahakam, Bundaran Air Mancur, Jam Bentong, Museum Kayu, Waduk Sukarame,
serta beragam aktivitas kuliner dan ekonomi kreatif.
Potensi tersebut didukung oleh
kekayaan wilayah Kutai Kartanegara yang jauh lebih luas. Kabupaten ini memiliki
bentang alam, sungai, kawasan pesisir, potensi perikanan dan pertanian, serta
kehidupan masyarakat yang beragam. Semua itu membuka peluang bagi pengembangan
wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, agrowisata, dan pengalaman
kehidupan masyarakat lokal.
Persoalannya, bagaimana semua
potensi tersebut dapat saling terhubung sehingga tidak hanya menarik kunjungan,
tetapi juga menghasilkan perputaran uang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat?
Di sinilah gagasan pembangunan
hotel terpadu layak dipertimbangkan.
Satu juta kunjungan, peluang
yang perlu ditangkap
Potensi pariwisata Kukar bukan
sekadar cerita tentang kekayaan sejarah dan budaya. Dokumen perencanaan
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mencatat sebanyak 1.022.905 kunjungan
wisatawan ke 49 destinasi pariwisata pada 2024. Jumlah itu meningkat dibandingkan
dengan 883.082 kunjungan pada 2023.
Artinya, terdapat kenaikan
sekitar 139.823 kunjungan atau 15,8 persen dalam setahun.
Di Tenggarong sendiri, Museum
Mulawarman mencatat 59.639 kunjungan pada 2024, sedangkan Pulau Kumala mencatat
21.916 kunjungan. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa destinasi sejarah
dan rekreasi di ibu kota kabupaten ini sudah memiliki daya tarik bagi
pengunjung.
Tentu, angka kunjungan ke
destinasi tidak sama dengan jumlah wisatawan yang menginap di hotel. Seseorang
bisa mengunjungi beberapa objek dalam satu perjalanan, sementara sebagian
pengunjung mungkin merupakan warga lokal atau wisatawan yang tidak bermalam.
Namun, data tersebut tetap
memberikan pijakan untuk mengkaji bagaimana aktivitas pariwisata dapat
menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas. Wisatawan membutuhkan bukan hanya
objek yang dikunjungi, melainkan juga akomodasi, kuliner, transportasi,
pemandu, cendera mata, dan pengalaman budaya.
Peluang itulah yang seharusnya
ditangkap melalui perencanaan yang terintegrasi.
Hotel bukan tujuan, melainkan
penghubung
Bayangkan seorang wisatawan
datang ke Tenggarong untuk mengenal sejarah Kutai. Ia menginap di hotel,
mengunjungi Museum Mulawarman dan Kedaton, berwisata ke Pulau Kumala, menikmati
kuliner di tepian sungai, lalu membeli cendera mata buatan perajin setempat.
Bayangkan pula sebuah
rombongan dari luar Kalimantan Timur datang untuk mengikuti konferensi selama
dua hari. Di sela-sela kegiatan, mereka mengikuti tur sejarah, menikmati
pertunjukan seni tradisi, mencicipi makanan khas, dan membeli produk ekonomi
kreatif.
Dalam kedua situasi itu, hotel
bukanlah tujuan akhir. Hotel menjadi titik temu antara pengunjung dan seluruh
potensi yang dimiliki Tenggarong.
Pengelola hotel dapat bekerja
sama dengan pengelola destinasi wisata, pemandu lokal, seniman, kelompok
budaya, pelaku kuliner, perajin, penyedia transportasi, dan UMKM. Kerja sama
itu dapat diwujudkan melalui paket wisata, promosi bersama, pertunjukan seni
berkala, pameran produk, serta agenda budaya yang terencana.
Hotel juga dapat menyediakan
informasi wisata, membantu pemesanan paket perjalanan, dan menawarkan
pengalaman yang memperkenalkan tamu pada kehidupan masyarakat Kutai.
Dengan pola seperti itu,
manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati pengelola hotel. Pelaku usaha lokal juga
memperoleh kesempatan untuk menjual produk dan jasa kepada para tamu.
Hotel yang baik menjual kamar.
Hotel yang terhubung dengan potensi daerah juga membantu menjual pengalaman,
cerita, budaya, dan produk masyarakat setempat.
Ballroom yang menghidupkan
kegiatan ekonomi
Gagasan hotel ini akan semakin
menarik apabila dilengkapi ballroom berkapasitas minimal 500 orang dan beberapa
ruang pertemuan yang lebih kecil.
Sebagai ibu kota kabupaten,
Tenggarong membutuhkan fasilitas yang dapat mendukung kegiatan pemerintahan,
organisasi, perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat. Ballroom
dapat dimanfaatkan untuk seminar, konferensi, rapat koordinasi, pelatihan,
pameran, pertemuan bisnis, wisuda, hingga resepsi perkawinan.
Fasilitas tersebut juga
membuka peluang bagi Tenggarong untuk mengambil bagian dalam pasar MICE, yaitu
kegiatan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran. Sejumlah
kegiatan berskala besar di Kalimantan Timur selama ini diselenggarakan di
Samarinda atau Balikpapan. Tenggarong patut mengkaji peluang menjadi lokasi
alternatif bagi kegiatan yang sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan
penyelenggara.
Ballroom itu tidak harus
menunggu kegiatan pemerintahan untuk dapat digunakan. Ruang yang sama bisa
menjadi tempat pameran kerajinan, festival kuliner, pertunjukan seni, pertemuan
komunitas kreatif, peluncuran produk lokal, dan berbagai kegiatan masyarakat.
Setiap kegiatan berpotensi
menciptakan transaksi ekonomi. Penyelenggara membutuhkan katering, dekorasi,
percetakan, dokumentasi, transportasi, dan berbagai layanan lainnya. Peserta
juga memerlukan makanan, penginapan, dan mungkin membeli produk lokal.
Akan tetapi, kebutuhan
fasilitas baru harus dibuktikan melalui pemetaan hotel dan ballroom yang telah
beroperasi, kapasitas efektifnya, tingkat pemanfaatan, tarif, serta permintaan
calon pengguna. Tujuannya bukan sekadar menambah gedung, melainkan menyediakan
fasilitas yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Erau dan kekuatan budaya yang
menggerakkan ekonomi
Kutai Kartanegara memiliki
satu modal budaya yang sangat berharga, yakni Erau. Perhelatan yang berakar
pada sejarah dan tradisi kerajaan ini bukan hanya agenda tahunan, melainkan
bagian penting dari identitas masyarakat Kutai.
Erau berpotensi menghadirkan
tamu, delegasi, seniman, komunitas budaya, pelaku usaha, dan wisatawan.
Kehadiran mereka membuka peluang bagi sektor akomodasi, kuliner, transportasi,
jasa acara, dan penjualan produk lokal.
Hotel yang terintegrasi dengan
kegiatan budaya dapat menawarkan paket menginap dan wisata, memfasilitasi
diskusi kebudayaan, menyelenggarakan pameran, serta bekerja sama dengan seniman
untuk menghadirkan pertunjukan pada waktu yang tepat.
Namun, pengembangan budaya
tidak seharusnya hanya bergantung pada Erau. Tenggarong dapat memiliki kalender
kegiatan budaya dan ekonomi kreatif sepanjang tahun, sehingga aktivitas ekonomi
tidak hanya ramai pada musim festival.
Pertunjukan musik tradisional,
seni tari, pameran kerajinan, festival kuliner, diskusi sejarah, dan pertemuan
komunitas dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar dan kemampuan
pelaksanaannya.
Dengan demikian, kebudayaan
bukan sekadar hiasan untuk menarik wisatawan. Kebudayaan menjadi sumber
kreativitas, identitas, dan peluang usaha yang memberikan ruang bagi masyarakat
untuk terlibat secara aktif.
Dari Tenggarong untuk seluruh
Kutai Kartanegara
Keunggulan Tenggarong juga
terletak pada posisinya sebagai pintu pengenalan terhadap potensi Kukar yang
sangat luas.
Kawasan hulu memiliki daya
tarik sungai, bentang alam, perbukitan, kehidupan perdesaan, serta potensi
pertanian dan perikanan. Kawasan tengah memiliki aktivitas perdagangan, jasa,
budaya, dan berbagai destinasi wisata. Sementara kawasan pesisir menawarkan
kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan laut, muara, perikanan, dan hasil
alam.
Di luar wisata sejarah dan
budaya, terdapat potensi wisata alam, wisata buatan, kuliner, agrowisata,
kerajinan, seni pertunjukan, serta produk ekonomi kreatif yang dapat
dikembangkan sesuai karakter setiap wilayah.
Hotel di Tenggarong dapat
menjadi salah satu simpul yang menghubungkan wisatawan dengan potensi tersebut.
Pengelola hotel bisa bermitra dengan biro perjalanan dan penyedia jasa lokal
untuk menawarkan paket wisata lintas destinasi, dengan tetap memperhatikan
aksesibilitas, kesiapan fasilitas, dan kualitas pelayanan.
Kedekatan relatif Kukar dengan
kawasan pengembangan Ibu Kota Nusantara juga menjadi konteks strategis yang
patut diperhitungkan. Perkembangan kegiatan pemerintahan, bisnis, dan kunjungan
ke kawasan tersebut berpotensi membuka pasar tambahan. Namun, peluang itu harus
diuji melalui riset permintaan, bukan sekadar diasumsikan akan mendatangkan
tamu secara otomatis.
Jika dirancang dengan baik,
hotel dapat menjadi salah satu pusat informasi dan layanan perjalanan yang
memperkenalkan pengunjung kepada kekayaan sejarah, budaya, alam, dan produk
lokal Kutai Kartanegara.
Mengubah aset menjadi
penggerak ekonomi
Kembali kepada lahan strategis
di dekat Jembatan Kutai Kartanegara dan kantor Bupati.
Letaknya yang berada di pusat
kota, dekat dengan kawasan pemerintahan, tepian sungai, ruang publik, dan
berbagai kegiatan ekonomi memberikan alasan untuk mengkaji pemanfaatan baru.
Rencana lama pembangunan mal tidak harus menjadi satu-satunya pilihan untuk
masa depan lahan tersebut.
Pembangunan hotel bintang dua
berkapasitas 120 kamar dengan ballroom minimal 500 orang merupakan salah satu
alternatif yang patut diuji. Namun, keputusan investasi harus didasarkan pada
studi kelayakan yang mencakup kebutuhan pasar, luas lahan, tata ruang, kondisi
tanah, risiko banjir, kebutuhan parkir, estimasi biaya, proyeksi pendapatan,
dan biaya operasional.
Pemerintah juga perlu
menghitung tingkat hunian minimum agar operasional hotel tidak merugi, jumlah
acara yang diperlukan setiap tahun, serta kemampuan proyek menghasilkan manfaat
bersih bagi daerah.
Dari sisi pembiayaan, kerja
sama pemanfaatan aset dengan investor atau operator profesional dapat
dipertimbangkan. Pemerintah dapat mempertahankan kepemilikan tanah, sementara
investasi dan operasional dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang sah,
transparan, dan melindungi kepentingan daerah.
Dengan demikian, pemerintah
tidak harus menanggung seluruh risiko pembangunan dan operasional sendiri.
Bentuk kerja sama harus dipilih berdasarkan ketentuan yang berlaku, kelayakan
finansial, pembagian risiko, dan manfaat yang diperoleh masyarakat.
Ukuran keberhasilan pun tidak
cukup berupa jumlah kamar atau kemegahan bangunan. Yang perlu diperhatikan
adalah kontribusi kepada daerah, tingkat pemanfaatan fasilitas, penyerapan
tenaga kerja lokal, keterlibatan UMKM, serta transaksi ekonomi yang tercipta di
sekitar kegiatan hotel.
Saatnya membangun ekosistem,
bukan sekadar gedung
Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki kesempatan untuk meninjau kembali cara aset daerah
dimanfaatkan. Lahan yang belum produktif dapat menjadi titik awal pengembangan
kegiatan ekonomi, asalkan keputusan diambil berdasarkan data, kelayakan, dan
tata kelola yang baik.
Gagasan pembangunan hotel dan
ballroom ini sebaiknya ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: memperkuat
Tenggarong sebagai kota wisata sejarah dan budaya, ruang pertemuan, serta pusat
aktivitas ekonomi kreatif yang terhubung dengan berbagai potensi Kukar.
Hotel harus menjadi bagian
dari perjalanan wisata, bukan sekadar tempat beristirahat. Ballroom harus
menjadi ruang yang menghidupkan kegiatan, bukan bangunan yang menunggu penyewa.
Kemitraan dengan UMKM harus menghasilkan transaksi nyata, bukan berhenti
sebagai slogan.
Jika semuanya dirancang secara
terpadu, satu lahan dapat membuka peluang bagi berbagai sumber manfaat:
pendapatan dari pemanfaatan aset, usaha perhotelan, penyelenggaraan acara, jasa
wisata, kuliner, seni, dan produk kreatif.
Tentu, semua itu memerlukan
perencanaan dan pembuktian melalui studi kelayakan. Namun, gagasan ini layak
menjadi bahan kajian serius karena mempertemukan kepentingan pemerintah dengan
potensi masyarakat.
Tenggarong telah memiliki
sejarah panjang sebagai destinasi wisata Kalimantan Timur. Kutai Kartanegara
memiliki kekayaan alam, budaya, dan keragaman potensi ekonomi. Tantangannya
sekarang adalah menghubungkan semua modal tersebut agar menghasilkan manfaat
yang lebih luas dan berkelanjutan.
Jangan sekadar membangun hotel
di Tenggarong. Bangunlah simpul yang menghubungkan wisatawan dengan sejarah,
budaya dengan kreativitas, acara dengan usaha lokal, dan aset daerah dengan
kesejahteraan masyarakat.
Sebab, pembangunan yang berhasil bukan hanya meninggalkan bangunan di tengah kota. Pembangunan yang berhasil meninggalkan manfaat yang terus bergerak, bahkan jauh setelah acara terakhir selesai dan tamu terakhir meninggalkan hotel.(Syafruddin Pernyata)
Berita Lainnya
Mempertimbangkan Kondisi Jalan dan Keselamatan Pengendara Lainnya, Bus Perusahaan Diijinkan
SANGATTA (26/7-2021)Menyesuaikan dengan kondisi jalan di Sangatta serta pertimbangan keselamatan pem ....
- editor@ivan
- 26 Jul 2021
- 1487
TADI MALAM Tenggarong kembali membara kakak beradik tewas terbakar,
TENGGARONG.Kebakaran Pemukiman dalambeberapa pekan terakhir terjasdi di KutaI Kartanegara setelah Ja ....
TIPS BERHAJI (9) HINDARI PERTENGKARAN AGAR IBADAH MENJADI SEMPURNA
semua jamaah haji pasti t berharap semua ibadahnya diterimaallah swt dan mendapat ganjaran pahala, k ....
- editor@ivan
- 08 Mei 2025
- 219
AKBP FAUZAN BAKAL TINGGALKAN Kutim
nbsp;SANGATTA.(1/7)AKBP FAUZAN Arianto, tampkanya bakal tidak lama lagibertugas sebagai Kapolres Kut ....
PMI Kaltim Peduli Kalsel
SAMARINDA (21/1-2021)Ingin meringankan beban korban banjir di Kalsel, sejumlah bantuan di kirim PMI ....
- editor@ivan
- 21 Jan 2021
- 707

