catatan penting
Berapa banyak
di antara kita yang mengetahui bahwa Balikpapan yang kini tampak damai itu
pernah menjadi medan pertempuran yang dahsyat? Bahwa kota ini pernah diguncang
dentuman meriam, dihujani bom, dan menjadi saksi gugurnya ribuan prajurit dari
bangsa lain?
Peristiwa yang
telah berlangsung puluhan tahun silam itu tidak semestinya tenggelam bersama
perjalanan waktu, seolah-olah tak pernah terjadi. Sebab sejarah bukan sekadar
cerita masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah masa kini sekaligus
penunjuk arah bagi masa depan.
Balikpapan,
kota di bagian selatan Kalimantan Timur yang kini menjadi pintu gerbang menuju
Ibu Kota Nusantara, setiap hari menyambut orang-orang dari berbagai penjuru.
Ada yang datang untuk bekerja, berbisnis, berwisata, atau sekadar transit
sebelum melanjutkan perjalanan.
Tahun 2018,
saya berdiri cukup lama di depan Tugu Australia di Balikpapan. Telunjuk saya
berhenti pada angka 229 yang terukir pada sebuah lempeng logam. Dua ratus dua
puluh sembilan.
Itulah jumlah
prajurit Australia yang gugur dalam Pertempuran Balikpapan pada Juli 1945.
Angka itu
memang dipahat pada logam. Namun sesungguhnya ia bukan sekadar bilangan. Di
baliknya ada keluarga yang kehilangan anak, istri yang kehilangan suami, dan
anak-anak yang tak lagi sempat memeluk ayahnya. Begitulah perang. Ia selalu
mengubah manusia menjadi angka.
Saya kemudian
mengangkat pandangan. Di hadapan saya berdiri sebuah monumen yang menjulang ke
langit. Ia diam. Tidak bersuara. Namun justru dalam diamnya, ia seperti sedang
berkisah tentang dentuman meriam yang pernah membelah langit Balikpapan,
tentang ribuan tentara yang datang dari negeri yang jauh, dan tentang sebuah
kota yang menjadi rebutan karena kekayaan yang tersimpan di perut buminya.
Delapan tahun
telah berlalu sejak kunjungan itu. Namun ingatan saya tidak ikut berlalu. Ia
tetap tinggal, sebagaimana tugu itu tetap tegak menjaga kisahnya.
Mengapa
Balikpapan menjadi ajang perebutan?
Jawabannya
bukan karena kota ini memiliki pantai yang indah atau teluk yang memesona.
Sejak masa
Hindia Belanda, Balikpapan dikenal sebagai salah satu penghasil minyak bumi
terbesar di kawasan. "Emas hitam" yang tersimpan di perut buminya
menjadi tenaga penggerak mesin-mesin perang. Kekayaan itulah yang menjadikan
Balikpapan laksana cahaya yang mengundang banyak mata untuk datang mendekat.
Jepang
memahami arti penting kota ini ketika mendudukinya pada tahun 1942. Namun
ambisi itu tidak berlangsung lama. Pada 7 Juli 1945, Divisi Ketujuh Australia
bersama pasukan Sekutu melancarkan operasi pendaratan besar-besaran setelah
didahului pemboman dari laut dan udara.
Pertempuran
berlangsung hingga 21 Juli 1945. Puluhan ribu tentara diterjunkan. Ratusan
prajurit Australia gugur. Ribuan tentara Jepang tewas. Balikpapan menjadi salah
satu arena pertempuran terbesar di kawasan Pasifik menjelang berakhirnya Perang
Dunia Kedua.
Semua itu
tercatat dalam sejarah.
Namun
sesungguhnya sejarah tidak berhenti pada angka.
Australia dan
Jepang bertempur habis-habisan di Balikpapan. Namun tanah yang mereka pijak
bukanlah tanah air mereka. Yang menjadi arena perebutan justru negeri kita.
Di situlah
perang selalu menyisakan ironi. Ketika bangsa lain mempertaruhkan
kepentingannya, rakyat di tempat itulah yang paling lama memikul akibatnya.
Rumah yang hancur dapat dibangun kembali. Jalan yang rusak dapat diperbaiki.
Namun nyawa yang telah hilang tidak pernah dapat dipulangkan.
Perang memang
mengenal istilah menang dan kalah. Akan tetapi, kemanusiaan selalu menjadi
pihak yang kalah.
Tugu Australia
itu tetap tegak berdiri di tengah derasnya arus kendaraan. Siang dan malam
ribuan kendaraan melintas di hadapannya. Orang datang dan pergi. Mesin meraung.
Klakson bersahutan. Kota terus bergerak mengejar masa depan.
Namun, berapa
banyak di antara mereka yang sempat menoleh? Berapa banyak yang memahami bahwa
monumen yang mereka lewati setiap hari sesungguhnya sedang mengingatkan kita
agar Balikpapan, Indonesia, bahkan dunia, tidak lagi mengulang luka yang bernama
perang?
Monumen memang
tidak bersuara.
Kitalah yang
sering kali tidak lagi mau mendengarkan. Sebab yang paling mudah hilang dari
sebuah bangsa bukanlah bangunannya, melainkan ingatannya.
Barangkali
karena itulah sejarah mendirikan monumen. Bukan untuk dipandang, melainkan
untuk mengingatkan. Sebab ketika manusia berhenti belajar dari sejarah, sejarah
sering kali datang kembali dengan luka yang sama.
Sejarah sering
dianggap hanya milik masa lalu. Padahal sejarah selalu berjalan berdampingan
dengan masa kini.
Kini
Balikpapan tumbuh sebagai pintu gerbang Ibu Kota Nusantara. Kota ini kembali
menjadi pusat perhatian, dikunjungi banyak orang, dan dipandang strategis dalam
peta pembangunan Indonesia.
Bagi saya,
Tugu Australia bukan sekadar penanda pernah terjadinya sebuah pertempuran. Ia
adalah penjaga ingatan.
Ia
mengingatkan bahwa letak yang strategis adalah anugerah, tetapi sekaligus
amanah. Negeri ini pernah diperebutkan karena kekayaan alamnya. Jangan sampai,
dalam bentuk apa pun, Indonesia kembali menjadi objek perebutan kepentingan
bangsa-bangsa besar.
Sejarah tidak
meminta kita hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Sejarah hanya meminta satu
hal.
Belajarlah
darinya.
Ketika saya
meninggalkan Tugu Australia sore itu, yang saya bawa pulang bukanlah kisah
tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Saya membawa
pulang sebuah kesadaran bahwa perang selalu meninggalkan air mata. Bahwa
kemerdekaan selalu meminta pengorbanan. Bahwa perdamaian tidak pernah datang
sebagai hadiah. Ia lahir dari kesediaan sebuah bangsa untuk belajar dari
sejarahnya.
Saya percaya,
suatu hari nanti saya akan kembali berdiri di depan tugu itu. Bukan untuk
bernostalgia melainkan untuk memastikan bahwa cinta saya kepada Ibu Pertiwi
tetap berakar kuat karena saya percaya, tugu itu sesungguhnya tidak sedang
menunjuk ke belakang.
Ia sedang
menunjuk ke depan mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa
yang sibuk mengenang peperangan, melainkan bangsa yang mampu menjaga agar
peperangan tidak pernah terulang.
Tidak ada tanah yang lebih berbahagia selain tanah yang tak lagi mendengar suara meriam. Tidak ada bangsa yang lebih mulia selain bangsa yang menjaga damai, belajar dari sejarah, dan memastikan negerinya tidak pernah lagi menjadi medan perang bagi kepentingan siapa pun.Indonesia harus tetap damai, apa pun taruhannya(Syafruddin Pernyata)
Berita Lainnya
Awas, Akun Palsu Ardiansyah Sulaiman Bertebaran
SANGATTA (12/11)Suhu politik di Kutim, benar-benar terpanas dari sejumlah daerah yang menggelar Pilk ....
- editor@ivan
- 12 Nov 2020
- 796
Anugrah Diterkam Buaya Saat Menyelam Di Teluk Lombok
SANGATTA (5/9-2021)Seorang anak beranama Anugerah (8) warga Jalan Solata KM 3 Sangatta Selatan, Ahad ....
calhaj kukar sudah tiba di makkah menginap di hotel manazil at taqwa berjarak 2,8 km dari masjidil haram
samarinda (24/5)Alhamdulillah kami semuadalam keadaan sehat waalfiat dan kini sudah di makkah mengin ....
- editor@ivan
- 24 Mei 2025
- 257
Buron Beberapa Tahun, Herliansyah Ditangkap Tim Kejagung dan Kejati Kaltim di Samarinda
SAMARINDA (2/4-2022)nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp; Sete ....
- editor@ivan
- 02 Apr 2022
- 464
Peduli Kalsel, Satpol PP Sumbang Mie Instan
SAMARINDA (19/1-2021) Bencana alam yang melanda Kalsel, menjadi perhatiannbsp; keluarga besar Satuan ....
- editor@ivan
- 19 Jan 2021
- 609


