MERAWAT TAMAN KALTIM DARI HAMA PRASANGKA
[12.13,
22/6/2026] S Pernyata:
Apa
sesungguhnya budaya Kalimantan Timur? Jika pertanyaan itu diajukan kepada
banyak orang, jawabannya mungkin seragam: tarian daerah, musik tradisional,
pakaian adat, atau upacara budaya. Jawaban itu tidak salah, tetapi belum utuh.
Sebab budaya bukan hanya apa yang dipertontonkan di panggung.
Budaya adalah
cara hidup yang membentuk watak masyarakat.
Budaya hidup
dalam cara berpikir, berbicara, bermusyawarah, menghormati sesama,
memperlakukan alam, dan membangun masa depan.
Namun dalam
praktiknya, budaya sering direduksi menjadi simbol seremonial: tari ditampilkan
saat peresmian, busana adat dikenakan pada hari jadi daerah, lalu selesai di
situ. Seolah-olah budaya sudah terlestarikan.
Padahal itu
baru permukaan.
Membatasi
budaya seperti itu ibarat merias wajah tanpa menyentuh kesehatan tubuh. Indah
di luar, tetapi belum tentu hidup di dalam.
Salah satu
nilai yang sejak lama hidup di Kalimantan Timur adalah keterbukaan.
Sejarah Kaltim
adalah sejarah perjumpaan. Berabad-abad wilayah ini menjadi ruang singgah suku
bangsa, di antaranya suku Arab, Tionghoa dan India.dan ruang hidup berbagai
perantau dari Nusantara.
Gelombang
besar berikutnya datang melalui transmigrasi pada 1970-an, disusul migrasi
spontan hingga hari ini.
Kaltim tidak
tumbuh sendirian. Ia tumbuh karena menerima yang lain.
Saya tumbuh
dan berkembang di Samarinda, berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain.
Di Jalan Kesuma Bangsa saya bertetangga dengan Bugis dan Toraja. Di Jalan Pulau
Irian saya bermain dengan teman-teman Tionghoa. Di tepian Mahakam saya mencari
kayu bakar bersama kawan dari Buton. Di Batang ODI dekat pelabuhan lama, saya
kerap berada di lingkungan masyarakat Tionghoa dan Banjar. Di Kompleks Pemuda,
saya hidup berdampingan dengan Jawa, Bugis, dan Toraja. Saat menjadi dosen,
saya bersahabat dengan rekan dari Ende, Dayak, dan Bali. Saat menjadi wartawan,
pergaulan saya meluas ke Batak, Minang, Banjar, dan lainnya.
Dari semua itu
saya belajar satu hal: Indonesia besar bukan karena keseragaman, tetapi karena
perjumpaan.
Namun
akhir-akhir ini muncul gejala yang perlu diwaspadai: polarisasi berbasis
kesukuan dalam politik lokal, terutama menjelang pemilihan kepala daerah.
Polarisasi
adalah keadaan ketika masyarakat terbelah ke dalam kelompok yang saling
berhadapan berdasarkan identitas. Dalam kondisi ini, seseorang tidak lagi
dinilai dari kapasitas dan integritasnya, tetapi dari asal-usulnya.
Jika
dibiarkan, perbedaan dapat berubah menjadi prasangka, lalu menjadi kecurigaan,
dan akhirnya menjadi jarak sosial.
Kita punya
pelajaran dari daerah lain. Konflik Sambas dan Sampit pada akhir 1990-an hingga
awal 2000-an menunjukkan bagaimana sentimen identitas yang tidak dikelola
dengan bijak dapat berubah menjadi kekerasan sosial yang meninggalkan luka
panjang.
Konflik Sambas
dan Konflik Sampit menjadi pengingat bahwa luka sosial tidak pernah sembuh
dengan cepat.
Kalimantan
Timur patut bersyukur karena hingga kini relatif damai. Tetapi damai tidak
terjadi dengan sendirinya. Ia harus dirawat.
Mitigasi
konflik berarti membaca gejala sejak dini: ketika mulai muncul narasi “kami”
dan “mereka”, ketika identitas dijadikan alat menilai seseorang, ketika ruang
publik dipenuhi sentimen kelompok.
Di situlah
kewaspadaan harus bekerja.
Kepemimpinan
dan kedewasaan politik
Saya bukan
pendukung “orang luar”. Saya juga bukan penganut paham yang selalu
menomorsatukan “orang dalam”.
Kepala daerah
tidak ditentukan oleh asal suku, tetapi oleh kapasitas memimpin.
Gubernur,
bupati, dan wali kota harus memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial,
dan spiritual. Ia harus mampu membaca tanda-tanda zaman, memahami kebutuhan
masyarakat, serta membedakan mana yang mendesak dan mana yang bisa ditunda.
Pemimpin tidak
boleh pongah, tidak boleh merasa paling tahu. Dalam istilah lokal, jangan
peiya-iyanya, jangan nentu, jangan pina musti.
Pemimpin
sejati tidak diukur dari gelar, tetapi dari manfaat yang dirasakan rakyat.
Kalimantan
Timur bukan milik satu kelompok, tetapi rumah bersama yang dibangun oleh banyak
perjumpaan.
Kaltim adalah
taman. Keindahannya tidak lahir dari satu jenis bunga, tetapi dari keberagaman
yang tumbuh berdampingan. Ada yang datang lebih dahulu, ada yang tumbuh
kemudian. Ada yang berakar di tanah ini, ada yang datang dari jauh lalu menjadi
bagian darinya.
Karena itu, jangan
biarkan prasangka menjadi hama yang merusak taman ini.
Tugas kita
bukan memperdebatkan bunga mana yang paling berhak tumbuh, tetapi memastikan
seluruh taman tetap subur, indah, dan meneduhkan siapa pun yang datang.
Sebab di
situlah wajah sejati budaya Kalimantan Timur: keterbukaan yang hidup, bukan
sekadar dipamerkan.(SP)
Berita Lainnya
Catatan ke Turki (1) : Emirates Hantar Saya ke Istanbul
SETELAH menempuh penerbangan yang lamayakni dari Balikpapan ke Jakarta, kemudian Jakarta ke Dubai da ....
- editor@ivan
- 25 Feb 2022
- 1102
Diminta 3, Kaltim Usulkan 10 Paket ke Menteri P2N
SAMARINDA (17/3-2022)nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp; Gub ....
- editor@ivan
- 17 Mar 2022
- 733
waw ngeri 169 remaja di kutim terpapar HIV Aids
Sangatta, swara kutim.com Orang tua di Kutim kudu sadar dengan tidak membiarkan putraputrinya terlib ....
hindari Serangan heatstroke, Pemerintah Saudi Larang Jamaah keluar tenda saat Wukuf.
SANGATTA (29/5)menjelang wukuf, cuaca di arabsaudi terutama di makkah dan arafahlebih ekstrim. pemer ....
- editor@ivan
- 29 Mei 2025
- 122
Banjir Menyebabkan Kerugian Besar
SANGATTA (24/3-2022)Banjir yang terjadi di Sangatta Utara dan Selatan, diperkirakan nbsp;menyebabkan ....
- editor@ivan
- 24 Mar 2022
- 414


