KELAPANGAN JIWA WULAN PURNAMA (Bagian3 / habis)
Tahun demi tahun berlalu. Anto berubah menjadi pria dewasa
yang sopan, cerdas, dan berpenampilan rapi. Ia bekerja dengan tekun dan tidak
pernah menyia-nyiakan kesempatan.
Bustan menawarinya mengikuti program Paket C. Anto
menyambutnya dengan penuh semangat. Setelah lulus dengan nilai memuaskan, ia
melanjutkan kuliah sambil bekerja. Bustan bahkan bersedia menanggung biaya
pendidikannya.
Bustan dan istrinya kerap mengajak Anto menjenguk ibunya di
desa. Air mata Bustan jatuh ketika melihat kondisi gubuk tempat perempuan itu
tinggal sendirian.
Sejak saat itu, Bustan meminta Anto pulang setiap akhir
pekan untuk menemani ibunya.
“Kamu tahu, toko kita libur setiap hari Minggu. Jadi, kamu
bisa pulang Sabtu malam setelah toko tutup. Kembalilah Senin pagi. Ibumu
membutuhkanmu. Dia pasti merindukanmu.”
Anto merasa tidak enak karena harus meninggalkan pekerjaan,
tetapi Bustan tetap mendorongnya untuk pulang.
Bustan tak menyangka pemuda yang dahulu pernah menjadi anak
punk dan pemalak itu ternyata sangat berbakti kepada ibunya dan keluarga yang
telah menerimanya.
Allah selalu membalas kebaikan yang kita tanam, bisik Bustan
dalam hati.
Anto tidak pernah membiarkan dirinya menganggur. Selepas
bekerja, ia tak segan membersihkan mobil, pekarangan, ruang tamu, bahkan dapur.
Padahal, semua itu bukan tugasnya.
Lama-kelamaan, Anto menjadi tangan kanan Bustan dalam
berbisnis.
Suatu hari, Anto menyarankan agar Bustan menutup toko
pakaian dan beralih ke usaha bahan bangunan.
“Maaf, Pak. Zaman sudah berbeda. Mempertahankan toko ini
hanya akan menambah kerugian. Bisnis daring semakin berkembang dan tidak bisa
dibendung. Saya kira, Bapak perlu mempertimbangkan usaha bahan bangunan.
Kebutuhannya terus meningkat, terutama di daerah-daerah yang sedang
berkembang.”
Bustan memikirkan saran itu. Ia mengakui bahwa banyak pedagang
pakaian di Pasar Pagi yang tutup, sementara toko bahan bangunan dan rumah makan
masih tumbuh.
Akhirnya, toko pakaian itu ditutup. Pakaian yang tersisa
disusun rapi di rak-rak bangunan belakang. Pakaian tersebut dibagikan sebagai
hadiah kepada pelanggan toko bahan bangunan. Sebagian lainnya disumbangkan
kepada keluarga kurang mampu dan anak-anak yatim piatu.
Usaha baru itu berkembang pesat. Dalam dua tahun, bangunan
toko sudah tiga kali diperluas dan direnovasi. Bustan tak pernah membayangkan
usaha kecilnya bisa berkembang menjadi semacam supermarket bahan bangunan.
Ia bersyukur. Keputusannya memberikan kesempatan kepada Anto
bukan hanya mengubah kehidupan seorang pemuda, melainkan juga menyelamatkan
usahanya.
---
Anto semakin sibuk. Bustan dan istrinya kemudian membujuknya
agar bersedia mengajak ibunya tinggal di rumah yang sengaja disiapkan untuknya.
Anto tidak pernah menduga bahwa tiga bangunan dalam satu
kawasan dengan toko itu dipersiapkan Bustan untuk kedua putrinya dan dirinya
sendiri.
Bustan memang hanya tinggal berdua dengan istrinya. Kedua
putri mereka sedang menempuh pendidikan di Jawa. Anita Semesta Indah mengambil
pendidikan desain interior, sedangkan Wulan Purnama Kartika menempuh program
studi Hubungan Internasional.
Mungkin karena tidak memiliki anak lelaki, kehadiran Anto
membuat keluarga Bustan terasa semakin lengkap. Ia sudah menganggap pemuda itu
seperti anak sendiri.
Kedua putrinya pun menyayangi Anto. Mereka menganggapnya
sebagai kakak yang bisa diandalkan. Ketika pulang berlibur, Anita dan Wulan
sering bepergian bersama keluarga, ditemani Anto yang sekaligus menjadi sopir
mereka.
Beberapa tahun kemudian, Anita menyelesaikan pendidikan
pascasarjana, sedangkan Wulan meraih gelar sarjana. Keduanya kembali ke kota.
Sebagai orang tua, Bustan dan istrinya mulai resah. Anita
yang telah berusia 26 tahun belum juga memberi kepastian tentang rencana
pernikahannya. Sementara itu, Wulan hanya tersenyum malu-malu setiap kali
ditanya apakah sudah memiliki tunangan.
Anita mengaku kepada ayahnya bahwa ia sudah memiliki calon
pendamping. Namun, setiap kali disarankan segera menikah, ia selalu berkelit
bahwa waktunya belum tepat.
Keresahan Bustan semakin besar ketika istrinya jatuh sakit.
Dokter mengatakan bahwa perempuan itu menderita maag akut. Kondisinya semakin
melemah.
Bustan ingin istrinya sempat menyaksikan kedua putri mereka
membangun rumah tangga.
“Ayah tidak ingin menunda-nunda kebahagiaan. Ibu sedang
sakit. Berikanlah kebahagiaan kepadanya agar ia sempat melihatmu melaksanakan
ijab kabul.”
Anita menangis dan tiba-tiba memeluk ayahnya.
Bustan terkejut. Rupanya, permintaanku terlalu berat bagi
batinnya, bisiknya dalam hati.
“Ada masalah apa, Nak?” tanyanya lembut.
Anita belum menjawab.
“Katakanlah. Bagi Ayah, kalau baik untukmu, insyaallah baik
pula bagi Ayah dan Ibu.”
“Sebenarnya, Ibu juga sudah tahu siapa calon pendamping
saya. Hanya saja, Ibu ragu bagaimana menjelaskannya kepada Ayah.”
“Jelaskanlah. Jangan membuat Ayah cemas. Ayahmu sudah tua,
ibumu pun sedang sakit.”
Anita menarik napas panjang.
“Ayah pernah mengatakan bahwa dalam memilih pasangan, kita
harus mempertimbangkan bobot, bebet, dan bibit.”
“Ya, itu harapan semua orang tua. Yang utama adalah akhlak
dan tanggung jawabnya.”
Anita kembali menangis.
“Selama ini, Ayah selalu menceritakan latar belakang Bang
Anto dengan lengkap. Itu masalahnya.”
Bustan terdiam.
“Masya Allah! Anto?”
Anita mengangguk.
“Anak baik itu, Nak. Sudah lama Ayah ingin mengatakan
sesuatu kepadamu, tetapi Ayah ragu apakah kamu mau menerimanya.”
Anita mengangkat wajahnya.
“Jadi, Ayah tidak keberatan?”
Bustan tersenyum dan memeluk putri sulungnya.
“Kenapa harus keberatan? Ayah tahu siapa Anto sekarang. Masa
lalunya tidak bisa kita hapus, tetapi ia telah membuktikan bahwa dirinya mampu
berubah.”
Bustan kemudian mengajak Anita menemui ibunya. Mendengar
pengakuan putrinya, perempuan itu menangis bahagia. Wajahnya berbinar. Ia
berusaha bangkit dari tempat tidur dan segera memeluk Anita.
Bagi Anita, inilah jawaban Allah atas doa-doanya selama ini.
Bustan kemudian memanggil Wulan dan menceritakan kabar
bahagia itu.
Wulan memeluk kakaknya.
“Semoga semuanya lancar dan Kakak bahagia,” ucapnya tulus.
Tak seorang pun mencurigai apa pun di balik senyumnya.
---
Anto datang melamar Anita dengan didampingi ibunya. Di
hadapan keluarga Bustan, ia menyampaikan permohonan maaf karena selama ini
tidak berani mengutarakan niatnya.
“Saya sadar, Pak, bahwa masa lalu saya sangat buruk. Saya
pernah melakukan banyak kesalahan. Saya bahkan tidak pernah membayangkan bisa
berada di tengah keluarga yang begitu baik seperti keluarga Bapak. Karena itu,
saya tidak berani berharap terlalu tinggi.”
Anto menunduk sejenak.
“Namun, saya tidak bisa terus mengingkari perasaan saya
sendiri. Selama enam bulan terakhir, saya dan Anita sudah saling menyatakan
perasaan. Saya ingin menjalani kehidupan yang lebih baik bersamanya, jika Bapak
dan Ibu berkenan memberikan restu.”
Bustan tersenyum haru.
“Tidak ada manusia yang hidup tanpa masa lalu. Yang penting
adalah bagaimana ia memperbaiki diri dan mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Ayah dan Ibu merestui kalian. Mudah-mudahan Allah melapangkan jalan bagi kalian
untuk membangun keluarga yang diridai-Nya.”
Ibu Anto menangis bahagia. Ia tidak pernah membayangkan anak
yang dahulu tumbuh dalam kesulitan akhirnya mendapatkan kesempatan membangun
rumah tangga dengan perempuan yang dicintainya.
Dalam pengurusan administrasi pernikahan, nama asli Anto
akhirnya tercatat: Muhammad Rudiyanto Barkah.
Tidak ada kata Lara di sana. Nama Anto Lara hanyalah nama
yang melekat pada dirinya selama menjalani kehidupan jalanan, masa ketika
kesedihan dan penderitaan seolah menjadi bagian dari identitasnya.
Kini, Anto telah meninggalkan semua itu. Ia membuktikan
bahwa perubahan bukan sekadar janji, melainkan perjalanan panjang yang
membutuhkan komitmen dan konsistensi.
Namun, tanpa diketahui siapa pun, ada seseorang yang
diam-diam menyimpan lara di dalam hatinya.
Wulan Purnama Kartika.
---
Seminggu setelah pernikahan Anita dan Anto, Wulan meminta
izin kepada ayahnya untuk kembali ke Yogyakarta. Ia ingin melanjutkan
pendidikan pascasarjana dalam bidang kajian manajemen pariwisata.
“Kok manajemen pariwisata?” tanya Anita.
“Bisnis pariwisata semakin berkembang berkat kemudahan orang
mengakses tempat-tempat indah di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Pariwisata
juga bisa membantu orang menyegarkan pikiran dan memulihkan ketenangan jiwa,”
jelas Wulan.
“Orang yang risau, galau, stres, bahkan depresi, bisa
mencoba memulihkan diri dengan berwisata. Wisata dapat membuat pikiran lebih
segar dan jiwa lebih tenang, ya, kan?” lanjutnya.
Anita tersenyum dan mengangguk. Ia tak mencurigai alasan
lain di balik keputusan adiknya kembali ke Yogyakarta.
Wulan memang ingin melanjutkan pendidikan pascasarjana dalam
bidang kajian manajemen pariwisata. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia juga ingin
menjauh sejenak dari kenangan, menenangkan batin, dan belajar menerima
kenyataan.
Wulan mencintai Anto. Perasaan itu tumbuh diam-diam, tanpa
pernah terucapkan. Namun, lelaki yang dicintainya kini telah menjadi suami
Anita, kakak yang disayanginya.
Ia tak ingin kebahagiaan kakaknya terusik oleh perasaan yang
disimpannya sendiri.
Maka, Wulan memilih kembali ke Yogyakarta. Ia berharap jarak dan waktu akan membantunya melapangkan jiwa, menerima takdir, dan menemukan ketulusan untuk merelakan sesuatu yang tak mungkin menjadi miliknya.Tamat.
Berita Lainnya
Peduli Kalsel, Pemprov Kirim Tagana dan Bantuan
SAMARINDA (19/1-2021) Bencana alam yang melanda Kalsel, menjadi perhatian keluarga besar Satuan Poli ....
- editor@ivan
- 19 Jan 2021
- 675
Walikota Cimahi Ditangkap KPK, Ruang Tahanan KPK Tambah Sesak
JAKARTA (28/11-2020)Ruang tahanan KPK bertambah sesak, pasalnya KPK dalam sepekan bahkan hitungan ha ....
- editor@ivan
- 28 Nov 2020
- 846
Kementerian ESDM dan DPR-RI Bantu Nelayan di Sangatta Utara
SANGATTA (4/11)nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp; nbsp;Untu ....
- editor@ivan
- 04 Nov 2020
- 775
Ardiansyah Sebelum Kerja, Sambangi Sejumlah Pegaai Setda Kutim
SANGATTA (1/3-2021)Usai resmi menjadi BupatiKutim periode 2021-2024, Ardiansyah Sulauman, Senin (1/3 ....
- editor@ivan
- 01 Mar 2021
- 699
Mahyunadi Membantah Ada Bagi-Bagi Uang, Namun Untuk Saksi Ada
SANGATTA (5/12-2020)Calon Bupati Kutim Mahyunadi membantah ada membagi-bagikan uang kepada pemilih, ....
- editor@ivan
- 05 Des 2020
- 728

