Kalimantan Timur

DPW Muhammadiyah Kaltim Imbau kader Muhammadiyah bantu pemerintah hadapi kemarau, dan Karhutla serta krisis air bersih

DPW Muhammadiyah Kaltim Imbau kader Muhammadiyah bantu pemerintah hadapi kemarau,  dan Karhutla serta krisis air bersih api sedang melahap semak belukar di Kenyamukan Sangatta Utara

SAMARINDA

Melihat keadaan alam Kaltim yang beberapa bulan terakhir mengalami kekeringan akibat kemarau serta terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dimana-mana sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Menghadapi Kondisi Kaltim yang saat ini dalam situasi genting,  Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur dalam press realesenya  menyampaikan seruan agar warga Muhammadiyah ikut membantu Pemerintah dengan melakukan  pertama Seruan Tanggap Darurat dan Aksi Kemanusiaan.

‘’Muhammadiyah memandang bencana kekeringan dan karhutla ini sebagai musibah yang memerlukan respons cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Berdasarkan Fikih Kebencanaan hasil Munas Tarjih ke-29, pemberian pertolongan kepada korban bencana adalah kewajiban kelompok masyarakat yang berkelebihan sumber daya, bukan sekadar rasa kasihan. Bantuan kemanusiaan harus berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar korban, termasuk hak atas air bersih, pangan, dan layanan kesehatan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS al-M?’idah (5): 2, “Bekerjasamalah kamu dalam hal kebaikan dan takwa, dan jangan sekali-kali bekerjasama dalam hal dosa dan permusuhan.” Tulis KH.Muhammad Jafron Ketua DPW Muhammadiyah Kaltim.

 

Seluruh elemen Muhammadiyah di Kaltim — mulai dari Lazismu, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center), Aisyiyah, hingga ranting dan cabang — diminta untuk bergerak aktif diminta ikut mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan.

‘’Bersama masyarakat dan pihak terkait melakukan upaya pemadaman dan pencegahan karhutla,’’ pesan KH Muhammad Jafron.

Kemudian mendirikan posko kesehatan dan logistik bagi warga yang terdampak asap dan kekurangan pangan.

Diungkapkan  dalam relisnya Dalam kerangka Fikih Air (Munas Tarjih ke-28), air merupakan kebutuhan pokok (basic need) dan hak asasi manusia yang wajib dipenuhi. Muhammadiyah menyerukan dilakukan  Gerakan Shodaqoh Air — yaitu penggalangan dan penyaluran air bersih secara sukarela bagi masyarakat yang kekurangan air. Gerakan ini sejalan dengan nilai al-M?’?n (ajaran surat al-Ma’un) yang menjadi ruh amal usaha Muhammadiyah.

Masyarakat yang memiliki kelebihan sumber daya — air, sumur bor, tangki air, maupun dana — diminta untuk berkontribusi. Semua bentuk bantuan agar dikoordinasikan melalui MDMC atau Lazismu PWM Kaltim agar tepat sasaran.

 

                Imbaun ketiga lakukan  Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) yang berdasarkan Fatwa Tarjih No. 9 Tahun 1999 tentang Shalat dan Khutbah Istisqa’, dalam kondisi kemarau panjang dan musim kering, umat Islam disunnahkan untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok, baik melalui doa dalam khutbah Jumat, doa bersama di masjid, maupun shalat istisqa’ berjamaah di lapangan.

‘’Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kaltim mengimbau seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat muslim pada umumnya untuk Memperbanyak istigfar dan tobat kepada Allah serta

melaksanakan shalat istisqa’ berjamaah di masjid atau lapangan terbuka, dipandu oleh imam atau pimpinan daerah setempat. Kemudian memanjatkan doakhusus minta hujan seperti yang diajarkan Rasulullah saw, dengan menghadap kiblat dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT.’’Dan Allah menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS an-Nahl: 65),’ tulis KH Muhammad Jafron.

 

Bagi DPW Muhammadiyah Kaltim sesuai Fikih Kebencanaan Muhammadiyah bencana bukan semata-mata hukuman atau murka Allah. Bencana adalah ujian (bal?’) untuk mengukur kualitas keimanan, sekaligus media introspeksi atas perbuatan manusia termasuk kerusakan lingkungan akibat perilaku eksploitatif. Sebagaimana firman Allah:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Rum: 30)

Oleh karena itu, di samping ikhtiar spiritual, umat Islam wajib melakukan ikhtiar nyata: mitigasi bencana berbasis ilmu pengetahuan, menjaga kelestarian lingkungan, dan menahan diri dari perbuatan yang merusak alam,’ sebut KH Muhammad  Jafron.

PWM Kaltim mengajak seluruh elemen masyarakat, MDMC, Lazismu, pemerintah daerah, TNI/Polri, perusahaan, dan ormas lainnya untuk bersinergi dalam penanganan darurat ini.

‘’Semoga Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya berupa hujan yang membawa berkah, mengakhiri kekeringan, dan memulihkan bumi Kalimantan Timur,’’ tutupnya dalam relisnya bersama H Amir Hady sebagai Sekretaris.(sk07)

 

 

 

Share to:

Ivan

Editor