Kutai Timur

sambut el nino, Kutim petakan sumber air

sambut el nino, Kutim petakan sumber air salah satu danau di muara ancalong- Kuti yang diharapkan masih bisa menjadi sumber air saat kemarau tiba akibat el- nino

Sa

 

SANGATTA.

sumber air untuk pertanian dan kebutuhan manusia dan hewan dipetakan pemkab kutim menjelang kedatangan el- nino yang menyebabkan kemarau panjang. pemetaan symbwer air seperti embung, bendungan , sumur, hingga sungai diharapkan  petani tetap bisa mengolah lahannya hingga tetap produksi di musim kemarau tahun 2026  yang diperkirakan lebih panas.

"sebagai antisipasi, forum komunikasi pemimpin daerah (forkopimda) sudah membahas langkah strategis dan pemetaan sumber air, terutama menyiapkan kebutuhan air di kawasan hortikultura dan padi sawah," kata bupati kutim ardiansyah sulaiman.

pemetaan sumber air baik yang berasal dari sungai, embung, maupun sumur bor, katanya, dilakukan secara detail hingga ke tingkat desa, guna memastikan setiap wilayah memiliki strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

data sementar, ungkapnya, di kutim saat ini ada 38 embung yang telah dibuat dan beroperasi di berbagai kecamatan sebagai sumber air untuk pertanian, seperti di kawasan irigasi  kaliorang, kaubun, kongbeng, dan long mesangat, serta desa-desa yang memiliki pertanian lahan tadah hujan.

sementara sumur dijelaskannya  terdata satu titik yakni dukungan badan wilayah sungai (bws) kalimantan iv samarinda. yang menyenangkan, saat ini terdapat bendungan besar di kawasan kaubun, kongbeng, dan long mesangat serta irigasi teknis di kaliorang yang mampu mengairi sekitar 1.300 hektare sawah.’’saat ini tercatat lebih dari 50 aliran sungai dengan 14 sungai utama yang menjadi tulang punggung sumber air irigasi pertanian, konsumsi, dan kehidupan masyarakat, seperti sungai kedang kepala sepanjang 319 km mulai kabupaten kukar hingga kutim.,’’ beber ardiansyah.

terhadap sungai sangatta, sungai wahau, sungai kelinjau, bengalon, kaubun, penyarai, antan, massabang, senambah, bendili (anak sungai), telen, ngayau, dan sungai makanying yang dimanfaatkan untuk pertanian, perkebunan, dan kebutuhan lain bagi warga.

ia mengakui pentingnya akurasi data lapangan agar kebijakan yang diambil lebih tepat dalam mewujudkan ketahanan pangan.sistem irigasi desa dan pompanisasi di kutim, ungkapnya,  sebagian mengambil air langsung dari sungai  sebagian lagi didukung bendungan dan embung yang menampung aliran sungai seperti di kaubun, kongbeng, long mesangat, dan kaliorang untuk stabilisasi pasokan musim kemarau."sementara pertanian di kawasan karst sekerat dan kaliorang, aliran sungai bawah tanah dan mata air pegunungan juga menjadi sumber pelengkap, sehingga kawasan tersebut harus terus dijaga," katanya.(sk03)

 

Share to:

Ivan

Editor