Ekonomi dan Keuangan

Saham Bayan untuk Kaltim?

Saham Bayan untuk Kaltim? Saham Bayan untuk Kaltim?

ADA peristiwa menarik dan ditunggu pelaku pasar dan pengamat bisnis pada Senin, 23 November 2026 pukul 14.00 WIB nanti. Peristiwa menarik itu adalah digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yang sebelumnya akrab dipanggil PT Gunung Bayan.

BYAN salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, yang memiliki areal konsesi di wilayah Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Selain itu, ada juga sebagian  berada di wilayah Kalsel.

Volume penjualan  batu bara BYAN pada tahun 2025 menembus 70,8  juta ton dengan pasar ekspor utama ke China (32 persen), Filipina (19 persen), India (8 persen) serta pasar domestik 26 persen.  Ini terbilang rekor.

Hingga kuartal III per 30 September 2026, BYAN meraih laba bersih 589,67 juta US dolar atau sekitar Rp10,6 triliun. Angka ini naik 12,88 persen dibanding periode tahun sebelumnya. Besarnya laba BYAN itu lebih 2 kali lipat dari APBD Balikpapan yang tercatat Rp3,57 triliun  atau sekitar 70 persen dari APBD Kaltim yang ditetapkan Rp14,33 triliun.

Pada akhir tahun 2026 ini  laba BYAN dipridiksi lebih besar lagi. Apalagi Kementeriam ESDM menyetujui revisi Rencana Kerja dan Agggaran Biaya (RKAB) untuk 3 anak perusahaan BYAN dengan tambahan kuota produksi antara 15 sampai 20 juta ton.

Kuota tambahan ini boleh dibilang “bonus” berkat adanya penjualan atau akuisisi saham BYAN kepada Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, pemilik Jhonlin Baratama, perusahaan tambang, perkebunan sawit  dan konstruksi yang berpusat di Batulicin, Kalsel.

Haji Isam saat ini dikenal sebagai salah satu pengusaha besar yang sangat berpengaruh, karena kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto.

Seperti kita ketahui dari informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada 7 Oktober 2026, Jhonlin Baratama mengambil alih 10.084.088.370 saham atau setara 30,25 persen modal ditempatkan dan disetor BYAN dari Datok Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low.

Haji Isam  “sangat beruntung” karena saham yang dibelinya hanya dihargai Rp2.588 per lembar. Sekitar 80 persen lebih rendah dari harga pasar. Jadi dia hanya membayar sekitar Rp26,1 triliun, padahal seharusnya di atas Rp100 triliun. Itu pun dia bukan pakai uang sendiri, melainkan uang dari gadai saham perusahaannya ke Bank Mandiri.

Drama pembelian saham BYAN “sangat murah” ini disebut-sebut sebagai salah satu pemicu peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang akan menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Seminggu setelah pembelian saham yang dilakukan Haji Isam, Datuk Lok Tuck Kwong melakukan aksi pembelian tambahan 100 juta lembar saham BYAN dengan harga Rp11.200 per lembar.(rizal Effendi)

Share to:

Ivan

Editor