Kesehatan

RSUD MUARA WAHAU DITARGETKAN BEROPERASI TAHUN 2029

RSUD MUARA WAHAU DITARGETKAN BEROPERASI TAHUN 2029 DR yUWANA - kADIS KESEHATAN kUTIM

SANGATTA,(25/10)

Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) mematangkan kesiapan pelayanan medis daerah, termasuk pengoperasian RSUD Muara Wahau yang ditargetkan resmi melayani masyarakat tahun 2029 mendatang.

Rumah sakit baru ini disiapkan untuk memangkas jarak rujukan warga di pedalaman, khususnya dalam penanganan penyakit darurat seperti stroke.   Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa pembenahan infrastruktur medis dan penguatan jejaring rujukan penanganan penyakit berat berbasis KJSU-KIA (Kanker, Jantung, Stroke, Uronefro, serta Kesehatan Ibu dan Anak) menjadi prioritas utama daerah. Pengoperasian RSUD Muara Wahau ditergetkan  periode 2028–2029 menjadi langkah strategis dalam pemerataan akses kesehatan di Kutai Timur.   "Setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan sel-sel otak pasien stroke melalui konsep Time is Brain. Kunci utamanya ada pada kesiapan fasilitas kesehatan, penanganan medis yang cepat, serta aksesibilitas bagi masyarakat," ujar Yuwana. 

 Selain persiapan rumah sakit baru di Muara Wahau, Pemkab Kutim juga mengalokasikan program bantuan khusus dan insentif bagi tenaga kesehatan, serta renovasi menyeluruh pada bangunan puskesmas dan rumah sakit yang ada.  

Dalam  program pengentasan stunting dilakukan secara masif dari hilir ke hulu sejak masa kehamilan hingga remaja putri guna menekan kasus lama dan mencegah kasus baru. Sementara dari sisi pembiayaan, kepesertaan BPJS Kesehatan (UHC) Kutim sudah menembus  106 persen, melampaui target nasional sebesar 97 persen, sehingga tidak ada lagi warga yang terkendala biaya saat berobat.   Guna menjangkau wilayah yang belum memiliki dokter spesialis, Dinkes Kutim juga menerjunkan program Dokter Spesialis Keliling melalui Pelayanan Kesehatan Bergerak secara berkala ke kecamatan-kecamatan.    "Melalui pelayanan kesehatan bergerak ini, kami secara berkala mendatangi kecamatan-kecamatan di daerah yang masih belum ada akses untuk rumah sakit dan belum ada dokter spesialisnya, sehingga kami melakukan pengobatan massal di sana," pungkas Yuwana, (SK01)

Share to:

Ivan

Editor