kepala BGN Sudaryono
JAKARTA
BADAN Gizi Nasional (BGN) menjelaskan penyebab utama insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi
Gratis (MBG) di Papua dan Semarang, Jawa Tengah. disebutkan dari investigasi yang dilakukan diketahui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melanggar batas waktu operasional dengan
mengolah makanan terlalu cepat.
Kepala BGN Sudaryono menyebut
proses memasak di SPPG Papua dimulai sejak malam hari sebelum hidangan
dibagikan kepada siswa."Jadi SPPG masaknya terlalu cepat, kalau enggak
salah pukul 19.00 atau 19.30 di hari sebelumnya atau makanan itu diberi hari berikutnya
di pukul 11.00, itu sudah sudah
melanggar. Demikian yang terjadidi Semarang, Jawa Tengah, SPPG mulai masak Pukul 21.00. Ini kan masalah kedisiplinan, nah ini
kita lagi cari formula untuk mengawasi SPPG yang melanggar," ujar Sudaryono
dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis (6/8).
Sudaryono menegaskan BGN tidak
akan mentoleransi pelanggaran pengolahan pangan. Jika investigasi membuktikan
adanya unsur kesengajaan maupun sabotase, BGN siap menyerahkan penanganan
perkara sepenuhnya kepada aparat kepolisian.
"Memang kalau ada ya kita
serahkan semua, bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela,
karena kalau salah, ngapain dibela. Jadi, cuma kan kita mesti juga ada asas
praduga tak bersalah, termasuk, mohon maaf, ada satu kasus keracunankarena
makanannya dibawa pulang," paparnya.
Selain faktor TIDAK disiplinan
DALAM masak di dapur SPPG, BGN menyoroti perilaku penerima manfaat yang membawa
pulang porsi makanan untuk dikonsumsi bersama anggota keluarga.
Ia mencontohkan kasus di mana
prosedur dapur dan waktu pembagian makanan pukul 09.00 atau 10.00 pagi sudah
sesuai standar, namun makanan baru dikonsumsi beberapa jam kemudian di rumah
hingga memicu gejala keracunan pada anggota keluarga lain.
"Jadi, DAPURNYA sudah benar, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu
yang juga masih sesuai, jam 9 atau 10 pagi, SEMUA benar mulai dari selesai
masak sampai dimakan, tetapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan
dikonsumsi bersama keluarga yang lain, sehingga yang keracunan bukan hanya
siswanya, melainkan termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanan itu. Ini
bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi MASYAEAKAT ," Kata Sudaryono
yang belum lama mimimpin BGN.
Informasi terkini diperoleh
media ini dari Papuas, setelah menjalani
perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura,delapan pasien kondisinya
terus membaik, bshkan satu orang telah
diizinkan kembali ke rumah.
Seperti diwartakan, kasus keracunan massal setelah makan makanan
bergizi gratis (MBG) kembali terjadi setelah di semarang jawa tengah, kasus
serupa kembali terjadi menimpasejumlahpelajar PAUD, SD, SMP di wilayah distrik
depapre, kabupaten jayapura, Rabu (5/8) kemarin.
informasi yang diperoleh wartawan, kini
kondisi di posko & puskesmas Depapre sempat mengalami over kapasitas luar
biasa karena lonjakan jumlah korban yang mencapai 80 siswa. karenaketerbatasan
ruang rawat dan fasilitas, posko medis terpaksa melakukan pembagian rujukan
evakuasi ke beberapa rumah sakit dan puskesmas terdekat sejak dini hari tadi,
saat ini korban yang dirawat
di rsud yowari sebanyak 43 orang karena
igd sudah penuh sudah over kapasitas pihak rs mendirikan tenda darurat di
halaman luar rs. kemudian di puskesmas sentani: merawat 11 pasien orang,
puskesmas waibu: merawat 11 pasien orang, puskesmas harapan: merawat 10 pasien
anak serta rsup jayapura: menangani 8 orang.
pelajar yang kini sedang dalam
perawatan yakni dari kampung waiya, tablasupa, nusu, dormena, dan kendate.
selain siswa, juga dilaporkan minimal ada 1 orang guru yang menjadi korban. seluruh korban mengeluhkan
mual, terang sumber media ini, kemudian mengalami muntah-muntah hebat, pusing, sakit perut
melilit, dan badan lemas. ‘’itujadi beberapa jam setelah mengonsumsi paket
makanan yang terdiri nasi, telur, dan tempe,’ sebut sumber terpercaya media ini
di papua.
anton mote - kepala dinas
kesehatan kabupaten jayapura menyebutkan
seluruh ugd puskesmas sekitar kota sentani sudah diaktifkan penuh dengan
sistem triase darurat.kabar baiknya, informasi terbaru di rsup jayapura
menerangkan kondisi umum anak-anak keracunan
sudah mendapat penanganan perawatan medis berupa pemberian infus dan terapi obat penawar sehingga kini berangsur membaik dan stabil.’’
dinas kesehatan dan berwenang sedang menguji sampel sisa makanan di
laboratorium untuk mengidentifikasi zat atau bakteri penyebab keracunan massal
di ujung timur indonesia ini,’’ ungkap sumber tadi.(sk012)
Berita Lainnya
Suko Buka Kiprah Desa Kaltim
SANGATTA (29/6-2021)Pembangunan desa harus berlanjut dan dilakukan dengan kehati-hatian, karena sala ....
- editor@ivan
- 29 Jun 2021
- 596
Kaltim Silent Pasti Dievaluasi
SAMARINDA(7/2-2021) Pelaksanaan Kaltim Berdiam Diridi Rumah dalam dua hari terakhir (6-7/2)dalam ran ....
- editor@ivan
- 07 Feb 2021
- 546
Tagana Kaltim Bagikan Ribuan Bungkus Nasi ke Korban Banjir di Kalsel
SAMARINDA (24/1-2021)Kehadiran Tim Tagana Kaltim di Kalsel, mampu membantu masyarakat yang terkena b ....
- editor@ivan
- 24 Jan 2021
- 661
Isran Mendapat Penghargaan Abdi Bakti Tani
SAMARINDA (13/9-2021)Sejumlah penghargaan dari Menteri Pertanian RI bakal diserahkan kepada kepala d ....
- editor@ivan
- 13 Sep 2021
- 608
Hanya 2 Jam, Polsek Sangkulirang Tetapkan HG Sebagai Tersangka
SANGATTA (4/12-2020)Jajaran Polsek Sangkulirang tak perlu waktu lama berhasil mengungkap kasus penga ....
- editor@ivan
- 03 Des 2020
- 1385


