pemuda

Jajaran kesehatan diminta waspada Penyakit dampak Karhutla.

Jajaran  kesehatan diminta waspada Penyakit dampak Karhutla. kondisi asap di pedalaman Kutim setiap pagi yang tampak hitam akibat asap karhutla

SANGATTA,

Melihat Karutla Kian meningkat dalam beberapa hari terakhir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim Mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktifitas di luar ruangan  serta mengingatkan semua rumah sakit dan Puskesmas termasuk Klinik Kesehatan untuk melukan  edukasi kepada Masyarakat ka  dampak Karhutla.

Dalam suratnya tertanggal 31 Agustus 2026, Kadis Kesehatan Kutim dr. Hj. Yuwana Sri Kurniawati, M.Si minta semua direktur Rumah Sakit, Puskesmas, UPT Laboratorium kesehatan, Pimpinan Klinik dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kutim untuk melakukan  Promosi kesehatan berupa edukasi dampak polusi udara dan upaya mengurangi bahkan memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau situs web; 2) Mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi 3)Rumah/kantor/sekolah/tempat umum saat polusi udara tinggi; 4) Menggunakan penjernih udara dalam ruangan; 5) Menghindari sumber polusi dan asap rokok; 6) Menggunakan masker saat polusi udara tinggi; 7) Melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); dan 8) Segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan,

Kemudian  Melakukan upaya preventif dan promotif melalui kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terkait pencegahan dan pengenalan gejala penyakit termasuk pemberantasan sarang nyamuk serta penerapan higiene dan sanitasi.

Serta meningkatkan deteksi dini dengan mendorong masyarakat yang mengalami gejala untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Selain itu, diminta semua pimpinan rsu dan Puskesmas termasuk Klinik Kesehatan untuk melakukan penguatan Sumber Daya Kesehatan seperti meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan dan deteksi penyakit sensitif iklim, serta tata laksana kasus secara komprehensif, Mengoptimalkan kemampuan laboratorium kesehatan, puskesmas dan rumah sakit. Berikut melakukan  surveilans meliputi deteksi dini penyakit berbasis lingkungan; dan  Peningkatan surveilans, identifikasi, dan intervensi dini serta Health Risk Assessment (Penilaian Risiko Kesehatan) terhadap penyakit berbasis lingkungan dan terkait iklim.

 Khusus pendataan penyakit pernapasan dan non pernapasan terkait polusi udara dilakukan pendataan secara berkala.ujar dr. Hj. Yuwana Sri Kurniawati,  Pemantauan, ujarnya dilakukan melalui pelaporan surveilans berbasis indikator (indicator based surveillance) dan surveilans berbasis kejadian (event basberbasis kejadian (event based surveillance) kemudian  Mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia.

Selain itu memastikan ketersediaan logistik seperti  masker sebagai alat pelindung diri  dari polusi udara.

Setiap Rumah sakit dan Puskesmas, diminta agar melaporkan bila terjadi kasus dalam waktu kurang 24 jam melalui SKDR EBS.  Dan  Mewaspadai setiap kasus suspek penyakit sensitif iklim seperti malaria,dengue, pneumonia, dan penyakit gangguan pernafasan lainnya.(sk01)

Share to:

Ivan

Editor