Kesehatan

dr. Fathurrahman, Sp.PA,stroke penyakit yang mengancam warga Kutim karena beberapa faktor

 dr. Fathurrahman, Sp.PA,stroke penyakit yang mengancam warga Kutim karena beberapa faktor Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Timur, dr. Fathurrahman, Sp.PA,

Ketua IDI Kutim: Penanganan Stroke Berpacu dengan Waktu, Akses Layanan Jadi Tantangan

 

SANGATTA,

 Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Timur, dr. Fathurrahman, Sp.PA, menyoroti tantangan penanganan stroke di Kutai Timur yang memiliki wilayah luas, persebaran penduduk terpencar, serta sejumlah daerah yang masih terpencil.

 

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada pembukaan Sangatta Neuroscience Update Symposium 2026 di Aula Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur, Sabtu (24/10/2026).

 

Menurut Fathurrahman, penanganan stroke membutuhkan kecepatan karena setiap keterlambatan dapat berdampak pada kerusakan jaringan otak dan hilangnya fungsi neurologis pasien.

 

“Dalam penanganan stroke, ungkapnya ada prinsip  time is brain (waktu adalah otak). ‘’Setiap menit keterlambatan dapat berarti hilangnya kesempatan menyelamatkan jaringan otak dan fungsi neurologis,” ujarnya.

 

Ia menyebutkan, kondisi geografis Kutai Timur menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.

‘’Kutai Timur ini memiliki tiga karakteristik. Sangat luas, yang konon jika peta Kutim dihamparkan di atas Pulau Jawa, maka Jawa Barat dan Banten akan tertutup. Persebarannya penduduknya terpencar dan sebagian besar juga masih ada yang terpencil,” ungkapnya.

Selain tantangan geografis, Fathurrahman menyebut stroke menjadi perhatian serius karena tingginya angka kematian dan kesakitan, sekaligus besarnya pembiayaan pelayanan kesehatan. stroke bersama penyakit kanker, ginjal, dan jantung menjadi kelompok penyakit yang menyerap pembiayaan besar dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional.’’Stroke bersama tiga penyakit lain, yakni kanker, ginjal, dan jantung, merupakan penyedot anggaran yang bikin BPJS pusing. Hampir 90 persen dana BPJS untuk penyakit katastropik tersedot untuk keempat penyakit ini,” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan pengetahuan tenaga medis dan pengembangan layanan kesehatan menjadi bagian penting untuk menghadapi tantangan tersebut.

Fathurrahman menjelaskan,  Sangatta Neuroscience Update 2026 selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad. tidak hanya berfokus pada simposium ilmiah, tetapi juga mengintegrasikan kegiatan promotif, deteksi dini, serta peningkatan keterampilan klinis.

Agenda pertama berupa pemeriksaan Pap Smear yang telah dilaksanakan Jumat kemarin kemudian dilanjutkan simposium neuroscience serta program proctorship untuk peningkatan keterampilan klinis pada Minggu besok. “Kegiatan ini mengintegrasikan tiga pendekatan penting, yakni edukasi, deteksi dini, serta penguatan keterampilan klinis,” jelasnya serya menambahkan kegiatan terlaksana buah kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, Dinas Kesehatan, RSUD Kudungga, serta IDI Cabang Kutai Timur sebagai organisasi profesi.

 

Simposium bidang kesehatan ini menghadirkan pakar dari tiga sentra pendidikan bedah saraf di Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Fathurrahman berharap kehadiran para pakar tersebut tidak hanya menambah wawasan tenaga kesehatan, tetapi juga membuka peluang transfer keterampilan dan pendampingan bagi pengembangan layanan bedah saraf di Kutai Timur.“Kami berharap kehadiran pakar ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi membuka jalan bagi transfer keterampilan, pendampingan, dan pengembangan layanan bedah saraf di Kutai Timur,” tuturnya.

Fathurrahman juga mengingatkan bahwa peringatan hari ulang tahun organisasi profesi tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum itu harus dimanfaatkan untuk memperkuat kompetensi dan meningkatkan kontribusi dokter bagi masyarakat.

simposium yang diikuti pelaku keseshatan ini, digelar  menyemarakan  Hari Ulang Tahun IDI ke-74, Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutai Timur ke-27, serta Hari Kesehatan Nasional ke-62.

 

“Bagi IDI Kutim, kegiatan ini dalam memperingati hari ulang tahun organisasi profesi tidak cukup hanya dengan seremonial. Peringatan ini harus menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali peran dokter, memperkuat kompetensi, serta menghadirkan kontribusi yang nyata bagi masyarakat,” katanya.

 

Fathurrahman juga menegaskan pentingnya menjaga solidaritas dan martabat profesi dokter, termasuk dalam penggunaan media sosial.“Harapan kami adalah mari kita menjadikan IDI sebagai rumah besar bersama bagi seluruh dokter, tempat bertumbuh, saling menguatkan, dan menjaga persaudaraan,” ujarnya.

 

Iapun berharap marawah Profesi terjaga dengan baik, “Mari bersama menjaga marwah dan martabat profesi, baik dalam pengabdian di dunia nyata maupun dalam sikap, tutur kata, dan jejak digital kita di alam maya.”

 

Selain peningkatan kompetensi medis, IDI Kutai Timur juga mendorong kegiatan yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Salah satunya melalui pelatihan bantuan hidup dasar atau basic life support untuk meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Menurut Fathurrahman, pelatihan tersebut penting mengingat serangan jantung dapat terjadi secara tiba-tiba, termasuk saat seseorang melakukan aktivitas fisik tanpa persiapan yang memadai.

“Sebagai informasi  salah satu kegiatan yang gencar diadakan IDI saat-saat terakhir ini adalah kegiatan pelatihan bantuan hidup dasar, karena mengingat banyak kasus-kasus kematian akibat serangan jantung yang terjadi tiba-tiba,” ungkapnya.

Ia berharap kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah daerah, dan fasilitas pelayanan kesehatan dapat terus berlanjut melalui program-program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Semoga kolaborasi hari ini menjadi secuil kontribusi nyata dari kami dari IDI untuk turut mewujudkan masyarakat Kutai Timur yang semakin sehat dan memberikan pelayanan kesehatan yang semakin maju,” tutup Fathurrahman.(SK04)

Share to:

Ivan

Editor