foto parman dan mieke bersama kerabat
Catatan Rizal Effendi
SESAAT setelah mendarat di Bandara SAMS Sepinggan, Minggu
(9/8) siang, saya langsung menjemput istri menuju Dome. Takut terlambat untuk menghadiri
resepsi pernikahan Inspektur Polisi Dua (Ipda) Parman dengan Mieke Henny, S.Pd,
SH, MM.
Ini pernikahan istimewa. Yang satu polisi, yang satu lagi
politisi. Ipda Parman saat ini bertugas di Polda Kaltim. Tapi dia pernah
menjadi Babinkamtibmas di Kelurahan Klandasan Ulu, Balikpapan Kota semasa saya
jadi wali kota. Sedang Mieke saat ini menjadi anggota DPRD Balikpapan dari
Partai Demokrat.
Meski bukan pernikahan pertama, tapi resepsinya dirayakan cukup
besar. Tempat acaranya berlangsung di Balikpapan Sport and Convention Center
(DOME), tempat pertemuan terbesar milik Pemkot yang mampu menampung lebih 2.500
orang.
Mieke mengirim langsung undangannya ke berbagai pihak
termasuk ke rumah saya. Kartu undangannya sangat mewah. Di situ tercantum
beberapa pejabat yang turut mengundang. Di antaranya Wakil Menteri Agraria dan
Tata Ruang H Ossy Dermawan, Permaisuri Raja Gowa XXXVIII Andi Hikmawati
Mappiwali Andi Kumala Idjo, Wali Kota Rahmad Mas’ud, Dirsamapta Polda Kaltim
Kombes Eka Mulyana, Dirpamobvit Polda Kaltim Kombes Pol Agus Fajaruddin, Ketua
DPRD Kota Balikpapan Alwi Al Qadri, Ketua Komisi III DPRD Kaltim Abdulloh dan Rektor
Uniba Dr Isradi Zainal.
Yang menarik anak-anaknya memasang baliho besar di 6
kecamatan. Saya lihat ada yang dipasang di persimpangan Balikpapan Baru.
Kata-katanya sangat menggugah. “Happy Wedding to My Mom & My Dad, Mieke dan
Parman. We are happy for your marriage.” Lalu di bawahnya tercatum 3 anak
bawaan Mieke (Mahesa Jenar, Yudha Jordan dan Abiyu Naufal) dan 3 anak dari
Parman (Nanda Anggraeni Putri, Nasya Fadhaillah Putri dan Nabigh Rizqullah
Parman).
Suami pertama Mieke adalah Heri Misnoto, mantan Kadisdik dan
Kepala Perpustakaan Pemkot Balikpapan. Eddy meninggal dunia Agustus 2020 lalu
karena terinfeksi Covid-19. Sedang Parman karena sesuatu berpisah dengan istri
pertamanya.
Meski namanya beraroma Jawa, tapi Parman berdarah Bugis.
Ayahnya alm Pabottingi dari Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sedang Mieke berdarah
Sulawesi Utara. Usia mereka memang tidak
muda lagi. Mieke sudah kepala 6 dan Parman kepala 5. “Perkawinan yang menarik
untuk dikupas,” kata Sahmal Ruhip, mantan Ketua PHRI Balikpapan me-WA saya.
Saya dan istri, Bunda Arita ikut antri untuk menyalami
mempelai. Saya sempat bertemu Ketua Dewan Alwi Al Qadri dan beberapa anggota
DPRD Balikpapan di antaranya Andi Arif Agung (A3) dari Fraksi Golkar dan M
Taqwa dari Fraksi Gerindra.
Sebelumnya datang juga Wali Kota Rahmad Mas’ud bersama
istrinya, Hj Nurlena Mas’ud. Rahmad sempat berpantun. “Pak Parman menulis
puisi, dibaca di suatu tempat, Pak Parman memilih istri, Bu Mieke yang paling
tepat.”
Parman dan Mieke tertawa bahagia mendengarnya. Mereka kelihatan
serasi dah harmonis. Parman mengenakan seragam resmi perwira polisi, sedang
Mieke mengenakan busana muslim berwarna coklat keemasan.
Saya juga sempat dimintai ucapan dari MC terkenal, Danie
Hasan. Saya bilang: “Pernikahan itu bagaikan sidik jari, keduanya berbeda namun
sama-sama indah.” Saya sengaja memilih
kata-kata ada sidik jarinya, karena itu bagian pekerjaan Parman sebagai polisi.
Saya juga sempat bertemu beberapa pejabat Pemkot, di
antaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sudirman Djayaleksana dan Camat
Balikpapan Selatan Muhammad Hakim. Sehari sebelumnya Sudirman juga menggelar
resepsi pernikahan putranya, M Kevin Djayaleksana dengan Dini Dwi Wardani. Saya
tak sempat datang karena masih di Jakarta. Tapi istri saya, Bunda Arita bersama
menantu saya, Ayi Aldi tetap hadir.
ADA BERITA DUKA
Selain berita bahagia, pekan kemarin kita juga mendapat
kabar duka. Ada tokoh dan sahabat kita yang dipanggil Yang Maha Kuasa. Ini
memang siklus kehidupan. Ada kehidupan dan kebahagiaan di dunia dan ada
kematian mengantarkan kita di kehidupan akhirat.
Andi Harahap (69), Bupati Penajam Paser Utara (PPU) periode
2008-2013 berpulang ke Rakhmatullah, Rabu (5/8) malam setelah beberapa waktu
menjalani perawatan intensif (ICU) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanujoso
Djatiwibowo Balikpapan.
Dia dikabarkan mengidap penyakit kanker hati. Berbagai
pengobatan telah dilakukan tapi tak banyak membawa perubahan sampai
menghembuskan nafas terakhir.
Jenazahnya sempat disemayamkan di rumah duka, Km 0,5
Penajam. Bupati PPU Mudyat Noor dan
sejumlah pejabat Pemkab PPU datang melayat. Juga Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud
dan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud.
Mudyat mengatakan, PPU kehilangan tokoh penting dalam
sejarah pembentukan Kabupaten PPU. Andi Harahap adalah salah satu tokoh yang
ikut berjuang melahirkan PPU melalui proses pemekaran dari Kabupaten Paser.
“Kita tak bisa melupakan jasa beliau sebagai tokoh pelopor pendirian PPU,”
jelasnya.
Mustaqim, mantan Wakil Bupati PPU di masa almarhum juga
datang. “Saya tak bisa melupakan kenangan berjuang bersama beliau. Tidak
gampang memimpin kabupaten baru, tapi beliau kuat dan penuh semangat,”
ungkapnya.
Sebelum terpilih menjadi bupati, Andi Harahap lebih dulu
menjadi Ketua DPRD pertama PPU periode 2002-2008. Dia juga sempat menjadi
anggota DPRD Kaltim 2019-2024. Lalu ikut lagi Pilbup PPU 2024 meski tak
berhasil.
Jenazah Andi Harahap dimakamkan di TPU Kayu Api, Kecamatan
Penajam, Kamis (6/8) ba’da zuhur tak
jauh dari makam istri pertamanya, almh Andi Roslina. “Dia pemimpin daerah yang
luar biasa dan penuh pengabdian,” kata Adam Sinte, sahabatnya ketika sama-sama
di DPRD Kaltim.
Suasana duka juga menyelimuti keluarga besar mantan karyawan
Surat Kabar Kaltim Post. H Mochammad Idris bin Sanusi patong, salah seorang
pelopor di bidang produksi dan pemasaran meninggal dunia, Rabu (5/8) pukul
22.20 Wita setelah mendapat serangan jantung ketika berada di Kuala Lumpur.
Beberapa hari sebelumnya Idris bersama Gunawan Saso diajak
mantan pimpinan Kaltim Post Group, Zaenal Muttaqin jalan-jalan ke Malaysia.
Mereka sempat mengunjungi beberapa lokasi wisata di antaranya Menara Kembar
Petronas.
Tak ada isyarat apa-apa. “Kami semua termasuk Pak Idris
ceria,” kata Gunawan. Tapi Senin (3/8) tengah malam Idris mengalami sesak
nafas. Dia dilarikan ke Tung Shin Hospital, tak jauh dari tempat menginap.
Setelah mendapat perawatan, Edwin, putranya yang datang mendampingi memutuskan
membawa ayahnya pulang ke Tanah Air menggunakan jasa pengangkutan profesional.
Tapi di tengah perjalanan, Idris menghembuskan nafas terakhirnya.
Jenazah Idris datang di rumah duka, perumahan RSS Jl Ruhui
Rahayu, Balikapan Selatan, Kamis malam. Setelah disalatkan, langsung dimakamkan
di TPU Km 15. “Kami mohon maaf jika ada kesalahan Bapak selama masa hidupnya,”
kata Edwin berkabung.(Rizal Effendi)
Berita Lainnya
Berkat Call centre 110, trailer terrguling dI KM 15 Bontang berhasil dievakuasi Polisi dengan cepat
SANGATTA,Keberadaan call center 110terbukti benar-benar bemanfat bagi masyarakat yang membutuhkan ba ....
WAMENAKER nNOELTERJARING OTT KPK DIDUGA PERAS PERUSAHAAN URUS K3
sangatta (21/8)Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker)Immanuel Ebenezer (IM) yang akrab disapaNoel ....
- editor@ivan
- 21 Agu 2025
- 134
Kasmidi : PTM Belum Dilaksanakan di Kutim
SANGATTA (10/1-2021)Satgas Penanganan Covid-19 Kutimnbsp; menegaskannbsp; pembelajaran tatap muka (P ....
- editor@ivan
- 10 Jan 2021
- 552
Limar Mulai Terangi Warga Prangat Baru
MARANGKAYU (4/11-2021)Program PeneranganListrik Mandiri Rakyat (Limar) yang digagas nbsp;Ujang Koswa ....
- editor@ivan
- 04 Nov 2021
- 567
Polsek ranpul gelorakan semangat kemerdekaan Bagikan pulugan lembar bendera merAh putih
sangatta (11/)menyemarakkan hari ulang tahun republik indonesia ke-80, sekaligusmendorong semangat m ....
- editor@ivan
- 11 Agu 2025
- 114


