bupati dsan wabup serta forkopimda seta sejumlah pejabat dengan baju adat Kutai siap nari Jepen bersama menandai Erau Pelas Benua Kutim Berakhir.
SANGATTA.
Meski tak seramai dengan Erau
ysang di gelar Pemkab Kukar di Tenggarong, namun Erau Pelas Benua Kutim yang
kali petrtama digelar di Sangatta mampu membuka dan mensambah literasi warga Kutim
akan adat istiadat yang patut dilestarikan dari generasi ke generasi Kutim.
Erau atau Eroh yang artinya
ramai Pelas Benua merupakan kado istimewa bagi Kutim yang telah masuk usia 27
tahun. Meski hanya berlangsung beberapa hari namun Erau Pelas Benua Kutim cukup
menyedot perhatian masyarakat Kutim yang sudah hitrogen bahka dapat dibilang
mininya Indonesia.
Upacara adat yang baru kali
digelar ini, Selasa (13/10) pagi ditutup Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.Prosesi
upacra penutupan yang digelsr di halsaman rumah adat Kutai Sangatta ini
dihadiri berbagai kalangan diantaranya Forkopimda, jajaran kepala perangkat
daerah, tokoh adat, serta masyarakat lokal.
Kehadiran forkompinda yang
mengenakan baju cina yang merupakan baju keseharian warga Kutai dalam beraktifitas
dalam kehidupannya, menbuat suasana penutupan lebih berkesan. Bupati Ardiansyah
dan Wabup Mahyunadi bersama istri serta Forkopimda dan pejabat lainnya , sempat menari
jepen bersama.
Bupati Ardiansyah menegaskan
pentingnya menjaga dan mengenalkan kembali nilai-nilai luhur budaya Kutai
kepada generasi penerus. Ia mengingat kembali sejarah panjang daerah Kutai
sejak abad ke-4 melalui keberadaan Kerajaan Kudungga yang terekam dalam
prasasti Yupa, hingga sejarah pembentukan Daerah Istimewa Kutai berdasarkan
Undang-Undang Darurat Tahun 1953.
"Erau Adat Pelas Benua
ini mengandung nilai sejarah, budaya, dan adat. Pelan tapi pasti kita akan
mengenalkan kembali nilai luhur itu kepada kita semua, karena kita memiliki
warisan adat dan budaya yang begitu kaya," ujar Ardiansyah.
Ia juga mengapresiasi
keberadaan lembaga dan pemangku adat Kutai Timur yang menjalankan perannya
berlandaskan payung hukum dan aturan adat yang jelas, seperti Undang-Undang
Panji Serifatan dan Beraja Niti. Menurutnya, hal tersebut memastikan bahwa
pelaksanaan urutan budaya dan adat di Kutai Timur terukur dan terjaga dengan
baik.
Selain warisan budaya
takbenda, Ardiansyah turut menyinggung sejarah pelestarian alam di Kutai,
seperti cagar alam dan suaka margasatwa yang kini berkembang menjadi Taman
Nasional Kutai (TNK). Warisan sejarah dan alam tersebut dinilai sebagai bagian
dari identitas daerah yang harus terus dijaga.
Ardiansyah meyakini bahwa
manusia tidak dapat hidup tanpa budaya dan adat. Ia berharap makna hakiki dari
gelaran Erau Adat Pelas Benua dapat memperkuat rasa saling menghargai antar
sesama manusia serta hubungan harmonis dengan alam.
"Kehidupan yang terbaik
adalah kehidupan yang saling menghargai antara sesama makhluk, manusia dengan
manusia, manusia dengan alam, dan manusia tunduk kepada Sang Pencipta, Allah
SWT," tutur Ardiansyah.dengan bangga.
‘’tanpa terasa erau pelas
benua pupus (berakhir,red) sudah,’’ kat Ardiansyah seraya tersenyum bshagia.(sk01)
Berita Lainnya
Keluarga Tetap Utuh Meski Covid 19 Mengamuk
SAMARINDA (29/6)Pembangunan Keluarga merupakan salah satu isu tematik dalam pembangunan nasional kar ....
- editor@ivan
- 29 Jun 2021
- 780
POLRI SELIDIKI DUGAAN KORUPSI BATUBARA UNTUK PLTU
JAKARTA (6/7)Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor)Polri menaikkan status nbsp;d ....
Dandim Tenggarong Juara se Indonesia
SAMARINDA (13/11)Komandan Kodim (Dandim) 0906 Tenggarong Letkol Inf Charles Alling terus menorehkan ....
- editor@ivan
- 13 Nov 2020
- 896
waw ngeri 169 remaja di kutim terpapar HIV Aids
Sangatta, swara kutim.com Orang tua di Kutim kudu sadar dengan tidak membiarkan putraputrinya terlib ....

