Seni dan Budaya

KENA BATUNYA   Cerpen Syafruddin Pernyata  

KENA BATUNYA     Cerpen Syafruddin Pernyata    Syafruddin Pernyata  

Siapa yang menyangka dunia bisa berubah dalam sekejap? Tidak percaya? Dengarkan ceritaku tentang seorang lelaki bernama Darmawan Soeka Pamerin.

Darmawan Soeka Pamerin adalah seorang pejabat kaya yang dikenal suka memamerkan kemewahan. Ia memiliki banyak koleksi jam tangan mahal dan gemar bepergian dengan sepeda motor bersama sahabat-sahabatnya. Di balik penampilannya yang ramah dan mudah bergaul, ia menyimpan kebiasaan merendahkan orang-orang yang dianggapnya berada di bawah.

 

Namun, malam itu, tepat pukul 22.00, suasana berubah.

 

Sejumlah petugas datang ke rumahnya. Mereka bukan tamu yang hendak menikmati kopi atau berbincang santai. Tak lama kemudian, Darmawan dibawa pergi.

 

Kampung mendadak gaduh. Pintu-pintu terbuka. Orang-orang berkerumun di tepi jalan, saling bertanya dengan wajah heran.

 “Darmawan kenapa?”

 “Memangnya dia berbuat apa?”

 “Entahlah. Katanya ada perkara serius.”

 

“Ah, yang benar saja! Setahu saya, dia orang baik.”

 Tak seorang pun mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.

 Darmawan SP—bukan Sarjana Pertanian—adalah orang kaya. Kalau libur, ia bersama sahabat-sahabatnya suka touring ke berbagai tempat. Bukan dengan mobil, melainkan sepeda motor. Jangan salah, harga motornya bisa menyamai mobil dinas keluaran 2022.

 

Suatu sore, tiga sahabatnya berkunjung ke rumahnya untuk merencanakan perjalanan saat cuti bersama.

 

“Cuti bersama nanti kita touring ke mana, Bos?” tanya Nanang Kaya.

 “Bagaimana kalau ke selatan?” usul Wagio Harat. “Bisa sekalian memancing.”

 

Joni Peiya-Iyanya menggeleng. “Kalau cuma touring, apa istimewanya? Kita cari tempat yang ada sungainya. Pagi memancing, siang makan ikan, sore lanjut perjalanan.”

 

Darmawan tertawa. Ia menyuruh orang rumah menyiapkan kopi dan makanan. Setelah berbincang beberapa saat, ia bangkit.

 “Tunggu sebentar. Ada sesuatu yang mungkin bisa menjawab rasa penasaran kalian. Mumpung sedang berkumpul, akan saya jelaskan sejelas-jelasnya.”

 a keluar dari kamar membawa sebuah kotak besar. Begitu tutupnya dibuka, Nanang langsung melongo.

 “Ya ampun! Banyak sekali jam tanganmu! Kalau digilir setiap hari, tiga bulan juga belum tentu habis!”

 

Darmawan tersenyum bangga.

 “Tidak semuanya harus dipakai. Ini namanya koleksi. Ada yang saya kenakan kalau rapat dinas, ada yang untuk menghadiri perkawinan, ada pula yang khusus untuk touring. Semuanya disesuaikan dengan suasana. Namanya juga koleksi, masa dipakai sembarangan?”

 

Ia tertawa sendiri.

 

Wagio membungkuk mendekat. “Rolex? Wah, Bos! Saya pernah melihat yang seperti ini di majalah.”

 Darmawan mengambil sebuah jam.

 “Rolex Submariner. Model pertamanya diluncurkan pada 1953, dirancang untuk penyelam. Model modern tertentu harganya sekitar sepuluh ribu dolar AS atau lebih, tergantung variannya.”

 “Sepuluh ribu dolar?” Joni terbelalak. “Kalau dirupiahkan, ratusan juta! Jam itu untuk melihat waktu atau membuat orang pingsan?”

 Mereka tertawa terbahak-bahak.

 Darmawan mengambil jam lain.

 

“Ini Patek Philippe Nautilus. Diluncurkan pada 1976. Desainnya terinspirasi jendela kapal. Model-model tertentu kini menjadi buruan kolektor. Harganya bisa puluhan ribu hingga ratusan ribu dolar.”

 Nanang menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Luar biasa! Bos hafal sejarahnya sampai begitu?”

 

“Kalau bertahun-tahun membaca katalog dan mengikuti pasar, kita akan mengenali ciri-cirinya. Perhatikan dial, jarum, casing, jenis mesin, dan nomor referensi. Detail kecil bisa menentukan nilai sebuah jam.”

 “Kalau saya,” celetuk Joni, “yang penting jarumnya bergerak dan saya tidak terlambat rapat.”

 Darmawan tertawa. Ia membuka kotak demi kotak. Ternyata ada sepuluh kotak berisi jam tangan mewah. Satu demi satu diperlihatkannya, lengkap dengan penjelasan tentang merek, tahun peluncuran, mekanisme, bahan, kelangkaan, dan perkiraan harga.

 “Sepuluh kotak, Bos?” Wagio mengangkat alis. “Saya punya sepuluh pasang sandal saja sudah merasa kaya!”

 Darmawan terbahak. Nanang ikut terpingkal-pingkal sampai keluar

Share to:

Ivan

Editor